Showing posts with label Chinese Culture. Show all posts
Showing posts with label Chinese Culture. Show all posts

Wednesday, May 29, 2013

Asal Usul Tradisi Telur Merah

Dalam budaya orang Tionghoa, bayi yang berumur satu bulan patut dirayakan. Orang tua yang berbahagia akan memperkenalkan kehadiran momongan baru mereka kepada teman dan sanak saudara mereka, sambil merayakan sebuah pesta telur merah dan jahe. Secara tradisi, nama bayi tersebut juga akan diberitahukan pada saat itu juga.

Tamu tamu yang menghadiri pesta telur merah dan jahe itu akan membawakan berbagai kado.  Angpao selalu diberikan kepada bayi laki-laki, sementara bayi perempuan akan mendapatkan berbagai perhiasan mahal. Para tamu undangan tidak meninggalkan pesta dengan tangan yang kosong. Orang tua sang bayi akan memberikan telur merah kepada mereka menandakan kebahagiaan dan sebuah permulaan hidup yang baru dengan hadirnya sang bayi.

Pesta telur merah dan jahe berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti di negara negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dahulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern pada abad ke 20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa, makanya diadakan sebuat pesta untuk merayakan hal itu.

Secara tradisi, masa nifas (umur bayi satu bulan/ ibu istirahat satu bulan setelah melahirkan tanpa keluar rumah)  ini juga merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan kembali sang ibu kepada masyarakat luar, orang Tionghoa percaya bahwa ibu-ibu berada dalam kondisi tubuh paling lemah sepanjang masa hidupnya sehabis melahirkan. Sama seperti adat orang inggris yang meminta ibu ibu istirahat untuk beberapa waktu sehabis persalinan, ibu ibu orang Tionghoa secara tradisional telah melakukan istirahat di dalam rumah selama sebulan penuh sehabis melahirkan tanpa keluar rumah. Ini untuk memastikan agar mereka tidak jatuh dalam kondisi yang terlalu lelah, atau tidak terjangkiti oleh berbagai kuman penyakit dari dunia luar yang dapat membahayakan mereka pada saat tubuh dalam kondisi paling lemah. Selain beristirahat, mereka minum sup daging hasil rebusan dari kaki babi, telur, cuka dan jahe, kebanyakan dari ibu ibu muda masih mengikuti cara ini sampai sekarang.


Pada zaman dulu, sesuai dengan pentingnya anak laki-laki dalam tradisi orang Tionghoa, pesta telur merah dan jahe kadang-kadang hanya dirayakan kepada bayi laki-laki saja, atau perayaan buat bayi laki-laki lebih megah dibanding bayi perempuan, tetapi sekarang, pesta dirayakan untuk bayi jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.


Di tahun tahun terakhir, lingkungan/tempat merayakan pesta telur merah dan jahe telah mengalami perubahan.  Para  orang tua mungkin akan memilih untuk merayakan pesta tersebut  di sebuah restoran yang mewah. Para orang tua juga dapat menggunakan telur dengan warna merah muda (tidak harus merah tua) dalam perayaan itu  : telur dengan jumlah angka jamak adalah untuk bayi laki-laki : telur dengan jumlah angka ganjil adalah untuk bayi perempuan. Tradisi ini juga masih terlihat pada keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia: pada saat bayi mereka berusia satu bulan, mereka akan mengirimkan paket telur merah dan ayam goreng (atau kue) kepada sanak saudara atau rekan-rekan yang memberikan kado kelahiran untuk sang bayi. (Erabaru/tan)

Kisah Budaya Luhur Bangsa China

Budaya Tiongkok klasik merupakan berkah dari langit untuk manusia. Inti utama budaya Tiongkok klasik memuat kepercayaan ortodoks, prinsip etika, nilai moral, tata cara dan prosedur, jalan hidup, kebiasaan dan adat, seni budaya dan lainnya.
Ideologi dibaliknya berakar pada pemikiran dan teori Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme. Jadi, budaya ini mengandung arti yang mendalam. Tujuan artikel ini adalah membahas sedikit dari konsep-konsep tersebut, seperti integrasi antara manusia dan alam, indahnya keselarasan, dan nilai-nilai kehidupan.
1. Akar Budaya
Frase “wen hua” (budaya) pertama kali muncul dalam buku Yi Shu. Frase ini tersurat dalam kalimat, “Amati astronomi untuk melihat perubahan, beri perhatian pada kemanusiaan untuk mempengaruhi dunia.” Konsep astronomi, letak geografis dan kemanusiaan dianggap sangat penting dalam tradisi Tiongkok. Langit, bumi dan manusia dipandang sebagai 3 potensi.
Berkenaan dengan fenomena astronomi, pada bagian pertama “Huang Di Shu”, disebutkan “Amati Tao langit, lakoni pada kehidupan nyata, dan itulah semua yang perlu dilakukan seseorang.” Itu berarti jika orang-orang dapat mengamati dengan jelas fenomena langit dan membakukan moral sosial dengan perilaku individu, maka itu sudah sempurna.
Di buku Shuo Wen, disebutkan, “Fenomena Tao dinamai “wen; “hua" berarti pembelajaran,” yang berarti mengajarkan masyarakat berdasarkan fenomena astronomi, yang juga merupakan asal dari budaya. Di sini, frase “kemanusiaan” dan “astronomi” disebutkan bersama untuk mengindikasikan bahwa prinsip dan norma di dunia manusia harus sesuai dengan hukum langit dan prinsip-prinsip semesta.
Dalam sejarah, orang suci, orang bijak dan kultivator yang sadar dan melakoni kebenaran, berbuat sesuai perintah langit. Dalam hal ini mereka mengkultivasi diri mereka sendiri, membuktikan Tao dan mengajarkan orang-orang. Menurut catatan sejarah, Fuxinshi menciptakan Trigram Delapan sedangkan Shennongshi menemukan bahan obat-obatan dengan menguji lebih dari ratusan jenis bahan herbal dan rumput-rumputan. Yao, Shun dan Yu memerintah dengan bijak dan membimbing orang-orang untuk menjalankan kehendak langit. Kaisar Wen dari dinasti Zhou dapat memprediksi kejadian masa depan dengan akurat. Laozi mewariskan budaya klasik, seperti Buku Perubahan yang merekam pola reguler langit dan bumi, yin dan yang, alam semesta, masyarat dan kehidupan manusia. Konfusius menghadirkan budaya Konfusianis, untuk menjaga kedamaian dan kesejahteraan negara. Masyarakat Tiongkok percaya bahwa Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme menciptakan sebuah sistem moral stabil yang membentuk fondasi bagi kehidupan yang berkelanjutan, stabilitas dan harmoni.
2. Inti Utama dan Nilai-Nilai Budaya Tiongkok Klasik
Ajaran Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme membentuk inti kebudayaan Tiongkok kuno, yang tidak hanya mempengaruhi kelakuan dan mental orang-orang, tetapi juga membangun kepercayaan umum dan integritas bangsa Tionghoa. Karakter nasional yang terefleksi pada budaya Tionghoa termasuk penghormatan pada langit dan dewa-dewa, norma susila dan “kebenaran”, di mana aliran Buddha menekankan pada “belas kasih”. Konfusianisme menitikberatkan pada “kasih sayang, keadilan, tata aturan, kebijakan dan kepercayaan.” Semua ini merefleksikan pencarian orang-orang dalam memahami esensi hidup dan pencerahan, dan juga jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti, dari mana asal manusia, ke mana manusia kembali, adakah arti yang lebih tinggi dari hidup dan nilai tak terbatas, bagaimana orang-orang harus berbuat, dan bagaimana cara meningkatkan kondisi moral ke tingkat Buddha, Tao dan Dewa-Dewa.
Dalam hal spesifik, sejarah 24 dinasti Tiongkok adalah koleksi biografi dari kebenaran dan kepercayaan, dicirikan dengan contoh yang menunjukkan “seseorang tidak boleh melakukan hal tak bermoral walaupun kaya, tidak boleh tergerak walaupun dalam keadaan miskin, dan tidak boleh tenggelam pada kekuasaan dan kekuatan militer.” Titik acuan moral kebudayaan klasik adalah norma dan tumpuan peningkatan spiritual, yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber spiritual tak terbatas untuk generasi selanjutnya, tetapi juga berkontribusi secara langsung pada perkembangan dan kemajuan kesusastraan klasik Tiongkok, musik, seni lukis, kaligrafi dan berbagai jenis seni. Arti yang lebih mendalam dari wajah moral Tiongkok kuno hanya dapat dimengerti dan dialami melalui peningkatan spiritual dan moral yang berpikiran lurus.
Kepercayaan dan kekuatan moralitas klasik dapat mengakhiri konflik dan pertikaian hidup, serta menciptakan sebuah kedamaian yang mendalam. Di tengah kesulitan dan urusan dunia yang kacau, kekuatan ini memungkinkan orang-orang untuk memiliki sepetak tanah murni di jiwa mereka dan mempertahankan ketenangan ini. Di hadapan konflik antara kepentingan pribadi dan moralitas, kekuatan ini juga membuat manusia mampu mempertahankan garis batas moralitas sehingga mereka tidak tersesat dan bingung, tidak menghianati niat dan kesadaran, tidak tenggelam ke tingkat rendah, dan selalu melihat harapan. Jika orang-orang mampu mematut diri terhadap prinsip langit, mereka bahkan mampu menjadi orang suci, manusia bijak, dewa, buddha yang membuktikan kebenaran Tao, menyelamatkan mahluk hidup, dan menjadi abadi. Jika moral masyarakat merosot, tidak murni, maka kekuatan negatif akan menemukan jalannya untuk mengarahkan orang ke jalan sesat.
3. Ciri Khas Kebudayaan Klasik
Budaya 5000 tahun bangsa Tiongkok telah mewarnai keseluruhan peradaban manusia. Ia telah menampilkan kekuatan agung dalam hal integritas dan daya hidup. Luas ruang lingkupnya terefleksi pada prinsip budaya keberagaman dan keterbukaan, dan ini telah berfungsi menciptakan pengaturan spesial dan tradisi “menggabungkan berbagai hal yang berbeda sifat”  dan “menjadi toleran terhadap berbagai tipe orang”. Budaya ini berpijak pada prinsip “mempertahankan keharmonisan sambil menerima perbedaan” dan “melihat fondasi yang sama sambil mempertahankan perbedaan”. Semangat melihat dunia luar dengan kebijakan mendalam dan prinsip “harmoni” sepenuhnya terefleksi pada doktrin Tao “tanpa usaha”, gagasan Konfusian “kasih sayang dan kebenaran”, dan semangat aliran Buddha ”belas kasih ”. Ini sesuai dengan yang disampaikan Laozi, “yang paling lembut dapat menangani yang paling keras,”menjadi gunung yang tinggi tanpa menolak bantuan bumi. Membentuk laut luas tanpa meninggalkan aliran kecil.” Pada jaman Dinasti Tang yang makmur, politik sangatlah tertib,keadaan ekonomi sejahtera dan budaya berpikiran terbuka. Saat prinsip-prinsip Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme diperkenalkan secara terbuka, hal tersebut memungkinkan masyarakat menjaga standard moral yang tinggi, mencapai kecemerlangan yang menarik perhatian dunia dan mempengaruhi berbagai negara.
4. Esensi Kebudayaan Klasik
A. Pandangan universal dari “penyatuan alam dan manusia”
“Alam dan manusia terintegrasi menjadi satu.” Ini merupakan inti dari ideologi Tiongkok klasik, dan Ia telah memainkan peran utama dalam budaya Tiongkok klasik. Pandangan ini telah membawa dampak signifikan pada area seperti nilai moral dan estetis. Buku Perubahan mendefinisikan langit, bumi dan manusia sebagai “tiga elemen utama”. Buku Perubahan juga mengatakan, “perubahan berarti kelahiran yang tak berakhir” dan “kebajikan terbesar dari langit dan bumi adalah penciptaan mereka atas hidup.” Manusia harus “melanjutkan kebaikan” langit dan bumi, “membentuk sifat” langit dan bumi, “ruang” diciptakan oleh langit dan bumi, “menjadi berpengetahuan tentang semua hal, dan menggunakan Tao demi kebaikan dunia,” jadi mencapai “keadaan murni di mana alam dan manusia terintegrasi menjadi satu.”
Kebudayaan klasik memegang kehendak Tuhan dengan hormat, percaya bahwa langit menciptakan manusia dan semua hal, dan memberkati mereka dengan kebajikan dan sifat baik hati. Hal ini juga membentuk hukum. Langit dan manusia terhubung satu sama lain, saling berkomunikasi dan tergabung menjadi satu. Konfusius berkata saat membuat kesimpulan tentang hidupnya, “ Saya memutuskan untuk belajar di usia 15, mencari jati diri di usia 30, menjadi tercerahkan di usia 40 tahun, dan pada umur 50 tahun, saya tahu tentang kehendak Tuhan..” Mencius berkata, “menjaga hati yang bersih dan memupuk sifat yang diberikan Tuhan, ini adalah cara untuk melayani langit.” Baik aliran Buddha maupun Tao berbicara tentang siklus kehidupan dan percaya pada samsara. Selain itu kedua aliran ini yakin bahwa kebaikan dan kejahatan akan menemui takdir mereka. Pada bagian “Yue Shu” dari Catatan Sejarah Agung disebutkan bahwa “Langit dan manusia terhubung satu sama lain, seperti hubungan antara tubuh, bayangannya dan udara. Seperti halnya jika seseorang menanam melon, Ia akan memperoleh melon, dan jika Ia menanam kacang, Ia akan mendapat kacang. Ini adalah sebuah sifat alam. Jadi, ketika seseorang terhubung dengan Tao langit, Ia dapat memahami hubungan di antara manusia.
Kaisar-kaisar pada jaman Tiongkok kuno menekankan pentingnya menghaturkan persembahan kepada dewa-dewa dan menyanyikan pujian tentang pengaruh dan bimbingan dari Langit dan Bumi. Memenuhi perintah Langit dianggap sebagai perbuatan bajik, dan orang-orang akan diberi hadiah jika melakukannya. Sebaliknya, jika melakukan yang tidak baik, mereka akan dihukum oleh Langit. Orang suci dengan gembira menjalankan Tao, tanpa meletakkan pengejaran pribadi mereka sebagai prioritas utama. Jika seseorang melakukan hal baik untuk memperoleh keberuntungan, maka telah ada sifat egois dalam hatinya. Jadi, kehendak Langit harus dikerjakan sebaik-baiknya, tanpa pengejaran terhadap perolehan pribadi sedikitpun. Adalah kewajiban semua orang untuk melakukan perbuatan baik dan menolak kejahatan, dan jika seseorang dengan hati yang tulus, mencoba melakukan hal ini, Langit akan tergerak oleh usahanya.
B.” Mempertahankan Doktrin Jalan Tengah” dan “Mencapai Harmoni”
Dalam buku Doktrin Jalan Tengah, disebutkan, “Mempertahankan doktrin jalan tengah adalah hal yang paling fundamental di dunia. Mencapai keadaan selaras akan membuat jalur menjadi jernih dan mulus. Ketika keselarasan dicapai, Langit dan Bumi akan ada pada keadaan yang benar dan semua hal akan tumbuh.” Teori mendasar dari Doktrin Jalan Tengah adalah konsep integrasi alam dan manusia menjadi satu. Ini juga menjadi prinsip untuk kultivasi moral. Konfusianisme percaya bahwa semua konflik antara semua hal dengan diri sendiri, antara orang-orang dengan diri sendiri, antara logika dan keinginan, harus ditangani dengan prinsip doktrin jalan tengah dan dengan menjaga keselarasan. Hal tersebut bertujuan untuk mencapai keadaan yang tulus dan penuh kasih. Kemudian, Langit, Bumi dan semua hal akan memainkan perannya masing-masing dan semuanya akan mencapai kondisi yang harmonis.
Konfusius berkata, “manusia sejati menjaga doktrin jalan tengah, sedangkan orang jahat berjalan melawannya. Alasan manusia sejati melakoni doktrin jalan tengah adalah karena Ia dalam keadaan itu setiap saat, Ia tidak melakukan lebih atau kurang. Orang jahat melawan doktrin jalan tengah, karena Ia tidak jujur dan selalu bergerak ke sisi ekstrem.”
Zhu Xi berkata, “berjalan di jalur tengah adalah hal yang benar dan jalur tengah sempurna adalah hukum yang pasti.” Dalam Lun Yu disebutkan, “di dalam aplikasi tata cara, hal yang paling berharga adalah menjaga keselarasan. Dari berbagai jalan yang diambil di masa lampau, ini adalah yang paling berharga.” Penguasa di masa lampau menetapkan upacara dan menciptakan musik untuk mengatur perilaku masyarakat dan mendidik negara. Mereka menganggap menjaga keselarasan dunia sesuai kehendak langit adalah misi sejarah mereka. Bangsa Cina, sejak jaman dahulu kala, mementingkan “menjaga harmoni” dan menghormati jalan tengah sempurna. Mereka berpegang pada belas kasih dan kebajikan untuk menjaga dunia agar tetap harmonis. Lagu Yeshi bercerita dalam Doktrin Jalan Tengah, “Orang kuno melaksanakan jalur tengah, maka Langit dan Bumi memainkan peran mereka, semua hal tumbuh berkembang. Kaisar-kaisar dan pejabat yang mengikuti prinsip ini termasuk Yao, Shun, Yu, Tang, Wen dan Wu. Jika kamu berbuat hal yang sama, maka perbuatan tercela tidak akan menemukan tempat untuk menyusup.
Orang jaman dulu menaruh perhatian pada keselarasan antara manusia, langit dan bumi. Berkenaan dengan hubungan interpersonal, Xunzi juga mengedepankan konsep “Tao kolektif”. Ia percaya bahwa alasan orang-orang bisa hidup bersama adalah karena adanya peran yang berbeda serta adanya moralitas dan keadilan. Seseorang tidak boleh menyakiti orang lain demi kepentingan pribadi. Tiap orang harus saling menjaga, baik dan toleran terhadap orang lain. Prinsip Konfusian dalam menangani hubungan interpersonal adalah kasih saying, keadilan, tata cara, kebijakan dan kepercayaan. Prinsip-prinsip seperti “belas kasih,” “jangan lakukan pada orang lain hal yang tidak ingin kamu lakukan pada diri sendiri,” “ingat apa yang benar di hadapan keuntungan pribadi,” dan “jika orang-orang tidak punya kepercayaan pada seseorang, tidak akan ada dukungan untuk orang tersebut,” menjadi nilai-nilai tradisional bangsa Tiongkok.
C. Nilai-nilai Kehidupan
Di buku Shi Daya Zhengmin, dinyatakan, “Langit menciptakan banyak orang. Ada berbagai hal dan prinsip. Sifat alami manusia datang dari sifat langit.” Dari sudut pandang universal “alam dan manusia tergabung menjadi satu,” prinsip budaya Tiongkok kuno menyarankan orang untuk memulai sesuatu dengan menyempurnakan diri sendiri terlebih dahulu. “Dari kaisar sampai orang umum, semua harus memperlakukan kultivasi diri sebagai yang utama.” Dipercaya bahwa manusia mampu mencapai kondisi “alam dan manusia tergabung menjadi satu” melalu kultivasi. Kemudian, mereka akan mampu berkomunikasi secara langsung dengan Tao dan Dewa-dewa. Ajaran Konfusius menyarankan “kultivasi-diri, aturan keluarga dan pengaturan yang baik untuk menjaga kedamaian dan keselarasan di bumi.” Walaupun dalam kesendirian, Konfusius menasihati agar orang-orang menjaga diri dengan baik. Selain itu, orang-orang harus senantiasa melakukan introspeksi diri, menerima pendapat orang lain, bermartabat, berbuat lurus dan tidak melewati prinsip-prinsip. Zhu Xi percaya bahwa seorang yang berjiwa ksatria harus tahu tata krama, memiliki hati yang lurus dan tulus. Aliran Tao menitikberatkan pada usaha untuk menjadi manusia sejati, berkultivasi untuk kembali ke diri sejati. Aliran Buddha menekankan pada kultivasi belas kasih, dengan tujuan akhir mencapai dunia Buddha.
Budaya Tiongkok kuno memberi perhatian pada kasih sayang, untuk memenuhi kehendak Langit, agar terbentuk hidup yang sederhana tetapi bajik, ketat mematut diri namun toleran terhadap orang lain, dan senantiasa berpikir dan menolong orang lain. Lao Zi member nasihat bahwa seseorang harus berlaku sesuai Tao, berbuat sesuai prinsip, menyesuaikan perbuatan sesuai keadaan, membiarkan segala sesuatu berjalan secara alami, tetap tenang dan toleran.
Konfusius percaya bahwa orang-orang harus menunjukkan belas kasih yang sama pada tiap orang. Mencius berkata, “perbuatan bajik tertinggi dari seorang ksatria adalah dengan bersikap baik pada orang lain.” Pada kebudayaan Tiongkok klasik, ajaran dan konsep Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme berakar dalam pada bangsa Tiongkok dari satu generasi ke generasi yang lain. Orang-orang menganggap pencarian kebenaran dan kebajikan adalah yang paling penting sehingga mereka tetap teguh pada prinsip tak peduli keadaan yang dihadapi.
Zhuanzi pernah berkata, “Orang yang bermartabat mirip Dewa. Dia tidak akan merasakan panas, jika danau terbakar. Tidak akan merasa dingin jika sungai membeku dan tidak akan tergerak di hadapan petir dan angin yang menakutkan.” Selama ribuan tahun, tak terhitung orang dengan kebajikan yang mulia dipuja secara luas, contohnya adalah Tao Yuanming, yang menolak perbuatan tercela demi keuntungan pribadi, Zhu Geliang, yang mampu melihat masa depan, Yue Fei, yang termasyhur karena kesetiaannya pada Negara, Lu You, yang senantiasa penuh perhatian pada rakyatnya. Orang-orang ini adalah tulang punggung bangsa Tiongkok. Mereka melampaui kehilangan dan perolehan pribadi. Mereka berhati lurus dan tak korup, perhatian terhadap rakyat dan setiap kepada negara. Perbuatan mulia mereka terekam dalam sejarah dan berkilauan selama ribuan tahun. Nilai-nilai dan pencarian terhadap kebenaran itulah yang mendorong bangsa Tiongkok melewati kesulitan dan rintangan dalam sejarah yang panjang.
Kebudayaan klasik diwariskan kepada manusia oleh kekuatan Illahi, sedangkan manusia diciptakan oleh Tuhan. Inti dari kepercayaan tradisional adalah untuk mengajarkan orang-orang agar menjadi manusia yang baik dan berbuat sesuai hukum alam semesta. Jadi, pada akhirnya dapat mencapai keadaan harmoni antara manusia dengan alam semesta. Tujuan kebudayaan Illahi terletak pada fungsinya dalam membimbing manusia dalam menilai segala hal terhadap standard moral. Sehingga, manusia mampu dengan hati lurus memahami prinsip-prinsip yang mendefinisikan “baik dan buruk” dan “kebenaran dan kebatilan.” Ini juga mendorong orang untuk mengejar kebenaran sehingga diri mereka memperoleh masa depan yang indah. Nilai moral dan arti mendalam dari kebudayaan ini bahkan berisikan makna lebih luas dan misi suci dalam sejarah. (Erabaru/ana)

Simpul Tali Tiongkok


Simpul-tali Tiongkok pada mulanya dibuat dengan tujuan pencatatan – kemudian ia juga memenuhi berbagai kebutuhan lainnya. (Foto: Dajiyuan)
Simpul-tali Tiongkok pada mulanya dibuat dengan tujuan pencatatan – kemudian ia juga memenuhi berbagai kebutuhan lainnya. (Foto: Dajiyuan)
Sejarah simpul tali ala Tiongkok (中國結 zhong guo jie) membentang melalui perkembangan 5.000 tahun peradaban Tiongkok. Pada masa prasejarah, simpul-tali sudah dipakai untuk tujuan penandaan sesuatu.
Kebudayaan Tionghoa membahas perihal: 結繩記事 Jie Shen Ji Shi – Tali ditarik simpul dengan tujuan untuk memberi tanda pada suatu hal dan 大事大結其繩 (da shi da jie qi sheng)、小事小結其繩 (xiao shi xiao jie qi sheng) – Untuk kejadian besar dibuatkan simpul besar dan untuk kejadian kecil dibuatkan simpul kecil.
Pada masa awal peradaban dan kebudayaan Tiongkok, mereka juga memandang magis pada tali, karena kata tali 繩 (sheng) di dalam bahasa mandarin pengucapannya mirip kata Shen – ketuhanan.
Selain daripada itu, aksara tali juga memiliki sebuah makna tersendiri dalam bidang pemujaan bagi orang Tionghoa, yang disebut juga sebagai rakyat sang naga, karena aksara Tali menyerupai seekor naga yang sedang meliuk bergerak.
Simpul-tali menerima sebuah makna metafor di dalam kebudayaan Tionghoa juga berkat linguistik asalnya. Aksara 結 (jie - simpul) asalnya terdiri dari 絲 (si) dan 吉(ji), dimana 絲 (si) bermakna sutera atau tali dan吉(ji) bermakna: makmur, berstatus sosial tinggi, panjang usia, kebahagiaan, kekayaan, kesehatan dan keamanan.
Aksara 結 (jie) melambangkan kekuatan, harmoni dan keterikatan perasaan kemanusiaan, yang direfleksikan di dalam sebuah deretan kata-kata bahasa mandarin yang mengandung kata 結 (jie), seperti misalnya 結實 (jie shi = kokoh), 結交 (jie jiao = mengikat persahabatan), 結緣 (jie yuan = merajut takdir pertemuan), 結婚 (jie hun = kawin), 團結 (tuan jie = bersatu-padu).
Sehubungan dengan keterkaitan yang mendalam dari simpul-tali Tiongkok ini dengan kebudayaan lokal, teknik simpul tersebut sebagai kesenian rakyat senantiasa dikembangkan dan diwariskan turun temurun.
Teknik simpul-tali Tiongkok berkembang ke sebuah bentuk seni sesungguhnya selama dinasti Tang (618-907 M), Song (960-1279 M) dan akhirnya mengalami masa paling jaya pada zaman dinasti Ming dan Qing (1368-1911 M) – di zaman itu pula secara lebih meluas simpul-tali digunakan pula pada busana tradisional.
Jauh melampaui sebuah penggunaan sebagai ornamen dekoratif untuk perayaan, unsur gaya dari simpul Tiongkok menemukan tempatnya di kalung, stek sanggul dan pernak-pernik dekorasi gantung. Simpul tertentu seperti "Simpul bahagia" dipergunakan sebagai azimat untuk menolak bala dan mengalahkannya, menghindari musibah dan mendatangkan kebahagiaan.
Beberapa abad lalu terutama di Tiongkok yang masih dikuasai komunis, bentuk kesenian ini kehilangan maknanya. Baru pada akhir tahun 90-an kesenian simpul-tali tersebut seperti halnya bordir dan busana tradisional ditemukannya kembali. Semenjak saat itu mulai digemari dan menyebar di kota-kota.

Sebuah Tali Menyimpul Harapan Baik

Karakteristik dari simpul-tali Tiongkok ialah ia dibentuk dari seuntai tali saja. Tali sepanjang minimal 1 meter sesuai metode, urutan dan aturan yang sudah ditetapkan, dibalut, dirol, disulam dan ditarik, sehingga menjadi simpul yang beraneka ragam dan memikat. Memang simpul tertentu betul-betul rumit dan penuh seni dalam pola dan desainnya, mereka kesemuanya adalah sebuah kombinasi dari maksimal 20 macam teknik dasar. Simpul Tiongkok terlihat sama dari depan dan belakang.

Bagaimana Simpul-simpul Memperoleh Namanya

Berbagai kemungkinan bagaimana simpul-simpul tersebut bisa dinamakan demikian. Simpul-tali yang berlainan memperoleh nama bisa dari bentuk atau tujuannya, lokasi dimana mereka terjadi, dimana mereka ditemukan atau makna di balik nama simpul tersebut.
Maka "Simpul uang dopel" kurang lebih menyerupai 2 buah uang logam tembaga dari zaman Tiongkok kuno yang terbelah di tengah dan ditaruh. "Simpul kenop" memiliki nama dari penggunaannya.
"Simpul 10-ribuan" mirip bukan saja dalam bentuk swastika Budha yang oleh orang Tionghoa juga dipakai untuk memaknai angka 10 ribu, ia selain itu juga acapkali muncul pada sabuk patung Guan Yin sang bodhisatwa kebajikan.
 "Simpul tak terhingga" meniru 8 simbol kebudhaan yang berarti sirkulasi abadi, dari situ semuanya berkembang biak. Simpul-tali menekankan secara seksama pertali-temalian yang tak terhingga ini dan merupakan dasar dari banyak variasi-variasi.(whs)

Sumber:

  醫 (Yi) - Medizin, medizinische Behandlung   [ 18.11.2007 ]
  Die Rätsel der chinesischen Schriftzeichen (1)   [ 03.09.2007 ]

Sumpit Cerminkan Perbedaan Budaya Kuliner Tiongkok dan Jepang


sumpit-china-jepang
Kurang lebih selama tiga tahun ini, saya hidup di Tiongkok. Dalam kurun waktu ini saya melihat adanya perbedaan kebiasaan dan tradisi antara Tiongkok dan Jepang. Menurut saya yang paling menarik dan paling sulit untuk dimengerti adalah masalah sumpit. Jika kita makan di restoran Tionghoa umumnya kita bisa melihat penggunaan sumpit tradisional Tiongkok, yang sama sekali berbeda dengan sumpit yang digunakan di Jepang.

Perbedaan yang pertama adalah, di Jepang, sumpit yang digunakan oleh pria lebih besar dari pada sumpit yang digunakan oleh wanita, namun di Tiongkok tidak ada perbedaan seperti ini. Perlu saya jelaskan pula, di Jepang ada sejenis mangkok yang sepasang untuk pasangan suami istri juga terdapat perbedaan seperti itu, mangkok yang digunakan pria lebih besar dari pada mangkok wanita, ini menandakan porsi makanan wanita lebih sedikit dari pada pria, sementara di Tiongkok tidak ada konsep seperti itu. Maka dari itu peralatan yang digunakan pria maupun wanita sama sekali tidak ada perbedaan, sehingga sama sekali tidak membedakan siapa yang seharusnya menggunakan sumpit ini, atau siapa yang seharusnya memakai mangkok ini.

Lalu panjang pendeknya sumpit, sumpit di Tiongkok jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan sumpit di Jepang. Mengapa bisa demikian?

Menurut saya, adalah kebiasaan makan masakan Tionghoa, dimana semua orang duduk berkeliling mengitari meja besar yang umumnya dipenuhi dengan banyak sekali jenis masakan. Jika menggunakan sumpit yang panjang, masakan yang terletak berjauhan tetap dapat diraih dengan mudah, juga dapat menjepitkan makanan bagi orang – orang yang duduk di dekat kita, untuk menunjukkan keramahan dan kegembiraan menerima tamu kita.

Berbeda halnya dengan masakan Jepang, setiap orang telah diberikan porsi makanannya secara tersendiri, sama sekali tidak ada masalah dalam meraih dan menjepit makanan, juga tidak perlu mengambilkan atau menjepitkan makanan untuk orang lain. Oleh karena itu sumpit Tiongkok lebih panjang, dan sumpit Jepang lebih pendek.

Selain itu, sumpit Jepang ujungnya selalu lancip, sebalik-nya, sumpit Tiongkok ujung-nya selalu lebih besar jika dibandingkan sumpit Jepang. Perbedaan ini sangat sulit untuk dijelaskan, menurut saya, ini dikarenakan oleh letak geografis Jepang yang dikelilingi oleh lautan, makanan utamanya adalah ikan, sementara sebagian besar orang Tiongkok hidup di daratan luas, yang makanan utamanya adalah daging. Di dalam bahasa Jepang ada sebuah kosa kata Jepang yang disebut “Sakana” yang artinya adalah ikan, di dalam bahasa Tiongkok juga ada sebuah pribahasa yang menyebutkan “kolam arak dan rimba daging”. Dari kedua patah kata ini dapat kita lihat makanan utama dari kedua bangsa ini. Maka dari itu, sumpit yang digunakan untuk memakan ikan haruslah berujung lancip yang gunanya untuk memudahkan mengeluarkan tulang dan duri ikan, sedangkan makan daging sama sekali tidak ada masalah seperti ini.

Dari sepasang sumpit yang sedemikian kecil ini dapat kita lihat perbedaan antara Tiongkok dan Jepang, dapat menjelaskan perbedaan adat kebiasaan dan kebudayaan dari masyarakat masing – masing negara dari setiap detail yang ada. Jika kita hendak memahaminya, maka kita harus melakukan pengamatan yang lebih terperinci lagi. Saya merasa bahwa saya baru memahami sebagian kecilnya saja. 

Tuesday, May 28, 2013

Seni Mengajar Tiongkok Kuno

alt
Ajaran Konfusius. Potret oleh Wu Daozi, 685-758, Dinasti Tang. (Wikimedia Commons)

Pendidikan formal di Tiongkok kuno sebagian besar berdasarkan pada Konfusianisme. Ketika Konfucu memberikan ceramah di Xingtan (harfiah diterjemahkan sebagai Altar Apricot), ia mempunyai 3.000 murid.
Konfusianisme adalah dikatakan berdasarkan atas ceramah-ceramah Konfucu dan ini berfungsi sebagai asal dari pendekatan Konfucu dalam mengajar.

Dong Zhongshu (179 SM - 104 SM), seorang sarjana kekaisaran berpengaruh selama Dinasti Han, mempromosikan ajaran Konfucu secara luas melewati semua ideologi yang lain, sehingga ajaran Konfucu adalah ideologi dominan pada saat itu.

Selama Dinasti Sui (580-618) dan Tang (618-907), sistem ujian kekaisaran menekankan pada studi ajaran Konfucu, secara bertahap membawanya ke puncak, dan pengaruhnya terhadap pendidikan Tiongkok klasik berlangsung selama berabad-abad.

Sebagai inti dari metode pengajaran formalnya, ideologi Konfucu adalah sistem pemikiran-pemikiran mendalam yang mencakup aspek-aspek luas dari kehidupan sosial dan spiritual pada zaman kuno. Dalam “Pembelajaran Besar,” Konfucu menulis, “Orang-orang yang berkultivasi, keluarga mereka diatur. Keluarga mereka sedang diatur, negara mereka sudah pada tempatnya diatur, seluruh kerajaan dibuat tenang dan bahagia.”

Dididik dibawah filsafat seperti ini, orang-orang Tiongkok kuno menekankan pada kultivasi moralitas, memelihara keluhuran karakter dan menghormati langit dan bumi. Orang-orang menerima bahwa kehidupan ditakdirkan mengikuti jalurnya dan bahwa dengan mengkultivasi karakter moral, seseorang akhirnya akan mencapai kebahagiaan dan pikiran yang tenang serta pandangan ke depan yang sehat terhadap kehidupan duniawi, surgawi, dan nilai-nilai sosial.

Akar dari Ajaran Konfucu terdiri dari “kebajikan, kebenaran, ketekunan, kebijaksanaan, kesetiaan.” Banyak sifat-sifat baik, seperti kesetiaan, berbakti kepada orangtua, keberanian, kejujuran, keterbukaan, kebenaran, kerajinan, dll. adalah berasal darinya. Konfucu secara efektif mengatur semua lapisan masyarakat Tiongkok kuno, dan mendefinisikan standar dan nilai-nilai untuk menjadi orang baik.

Kebajikan dan kesopanan adalah nilai-nilai inti Konfusianisme. Dengan mempertahankan pemikiran kebajikan, orang-orang secara alami menjadi budiman. Tanpa kesopanan, tidak akan ada kesetiaan atau loyalitas. Tanpa kesetiaan, tidak ada yang dapat dibentuk.

Budaya tradisional Tiongkok berakar mendalam di dalam Ajaran Konfusius, Buddhisme, dan Taoisme. Konfusius fokus pada “memasuki dunia fana,” sedangkan Buddhisme dan Taoisme memfokuskan pada “melampaui duniawi fana.” Karena ia berinteraksi dengan masyarakat sehari-hari, ajaran Kunfucu memiliki dampak terbesar bagi masyarakat manusia, atau dunia fana.

Di Tiongkok kuno, pendekatan Konfucu dalam mengajar sangat efektif karena bukan hanya membentuk banyak individu sangat unggul, tapi juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas masyarakat dan mendorong kemajuan ekonomi dan budaya. Tanpa pendekatan ajaran Konfucu dalam pengajaran, sejaran Tiongkok tidak akan mempunyai Dinasti Tang yang luar biasa atau keelokan Dinasti Song atau Dinasti Ming dan Qing yang bersemangat. Artinya, kebudayaan tradisional Tiongkok tidak akan pernah ada jika bukan karena ajaran Konfucius.

Selama Dinasti Han (206 SM - 220) dan Dinasti Jin (265-420), sistem ujian kekaisaran masih belum terbentuk, namun ada sistem rekomendasi untuk mencalonkan orang-orang yang berpendidikan baik dari latar belakang yang baik untuk mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Orang-orang itu biasanya dari keluarga kaya dan berpengaruh. Namun, jika seseorang tidak berpendidikan, tidak peduli bagaimana status keluarganya, ia tidak akan bisa direkomendasikan.

Didirikan selama Dinasti Sui dan Tang, sistem ujian kekaisaran memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat umum untuk menduduki jabatan pemerintahan. Banyak orang berpendidikan dengan latar belakang sederhana memperoleh jabatan-jabatan peringkat tinggi di pemerintahan. Banyak kisah sukses orang-orang yang “memulai dari bawah” masih diceritakan sampai hari ini.

Meskipun orang-orang yang di atas merupakan minoritas, tapi mereka yang dididik di bawah ideologi yang sama itu memegang peranan penting dalam masyarakat. Secara keseluruhan, yang berpendidikan sangat dihormati dan merupakan pilar utama dalam masyarakat Tiongkok.

Beberapa dari mereka mulai membuka sekolah-sekolah; memberikan saran-saran strategis bagi para penguasa; mempraktekkan pengobatan; menjadi seniman. Di Tiongkok kuno, strata pendidikan masyarakat mempunyai dampak besar pada masyarakat melalui pemikiran dan perbuatan mereka. Nilai sistem mereka berperan penting dalam menjaga stabilitas.

Karakteristik unik lain dari metode pengajaran Tiongkok kuno adalah buku teks utama tidak berubah selama ribuan tahun. Tidak peduli bagaimana dinasti berubah, yang klasik tetaplah sama.

Dinasti dan masyarakat bisa berubah, tapi Tao tidak akan pernah berubah. Inilah sebabnya mengapa Konfusius berlangsung selama ribuan tahun. Tidak peduli seseorang lahir di dinasti mana, dia akan selalu menerima pendidikan yang sama yang dipandu oleh idealisme-idealisme ortodoks.

Teks-teks klasik adalah esensi dari kebudayaan tradisional Tiongkok. Orang-orang mulai mempelajarinya pada usia yang sangat muda. Banyak orang mampu membaca ayat-ayat dari “Pembelajaran Besar,” “Doktrin Tengah,” “Analek Konfucius” dan “Buku pujian.”

Namun, di China modern mayoritas sarjana dan siswa sekolah telah kehilangan hubungan mereka dengan buku-buku ini, yang mana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan mereka.

Di Tiongkok kuno, tujuan pendidikan adalah mengetahui keberadaan Tao, menjadi manusia. Pondasi ini menyediakan bimbingan yang benar bagi sepanjang kehidupan seseorang, dan seseorang akan menyadari Tao pada tingkat yang lebih mendalam melalui praktek Tao dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di dunia pendidikan sekarang ini hanyalah akumulasi dari ketrampilan-ketrampilan dan doktrin-doktrin teks.
alt
Di Tiongkok kuno, pendidikan dilakukan baik di sektor swasta dan pemerintah. Anak-anak dididik di rumah oleh pengajar privat (dikenal sebagai Sishu), sarjana-sarjana yang gagal dari ujian pemerintah pusat. Mendidik anak adalah sebuah jalur karir yang penting bagi para intelektual ini: ini menyediakan sarana penghidupan, memumuk bakat mereka, dan mempromosikan pendidikan di masyarakat.
Dalam masyarakat Tiongkok kuno, setiap orang menghormati para guru dan seorang guru sangat dianggap sebagai figur otoritas. Hirarki penghormatan dari: “Langit, Bumi, Kaisar, Orang Tua, Guru.”

Orang-orang menganggapnya sebagai motto bahwa "Sehari menjadi guru adalah seumur hidup menjadi seorang ayah.” Oleh karena itu para intelektual sangat berkeinginan untuk mengajar. Jika salah satu dari siswanya mampu mencapai peringkat tinggi di ujian pemerintah pusat dan menjadi pejabat tinggi, itu akan membawa kemuliaan besar bagi guru mereka, ia akan dihormati seumur hidupnya.

Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah disebut Shuyuan. Beberapa dari mereka adalah milik privat tetapi semua memiliki latar belakang resmi; mereka sering kali didukung secara financial oleh pemerintah. Tujuan Shuyuan adalah lebih meningkatkan pengajaran dan mengatur sebuah pelatihan bakat tingkat tinggi. Hanya mereka yang didedikasikan untuk mengikuti ujian pemerintah yang cukup baik untuk masuk Shuyuan.

Shuyuan hanya ada di tingkat provinsi atau di ibukota provinsi besar. Shuyuan menyediakan pendidikan terbaik dan memiliki standar akademis tinggi.

Para direktur Shuyuan semuanya adalah tokoh terkemuka di kalangan akademisi dan sarjana yang sangat dihormati. Pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendirikan sekolah-sekolah ini, yang memungkinkan pendidikan berkualitas tersedia bagi masyarakat umum. Sistem pendidikan Tiongkok kuno itu sangat komprehensif dan disesuaikan untuk menyediakan negara dan masyarakat dengan orang-orang berbakat di berbagai bidang.

Dalam masyarakat Tiongkok klasik, pendidikan diklasifikasikan ke dalam pendidikan klasik, pendidikan dasar, dan setengah klasik dan pendidikan setengah dasar. Pendidikan dasar mengajarkan pengetahuan dasar bagi pemula. Para guru hanya membaca keras-keras buku teks tanpa menjelaskan artinya. Sebagaimana guru membaca, para siswa menghafal setiap kata dan ungkapan. Para cendekiawan, pemula muda, dengan demikian akan menghafal ratusan ribu karakter.

Metode mengajar ini mungkin terlihat kikuk tapi ternyata efektif untuk alasan-alasan berikut: Pertama-tama, berfungsi untuk mengasah temperamen para siswa dan memperbaiki sikap mereka dalam belajar. Kedua, melalui pelatihan intensif tersebut, kata-kata dengan makna mendalam akan terukir di dalam pikiran para siswa dan mereka dapat mengingat dan menggunakan kata-kata ini sebagai dasar bagi tingkah laku mereka selama hidupnya. Bagian dari pelajaran ini meletakkan dasar-dasar yang solid bagi pendidikan di masa depan mereka.

Ada alasan kenapa para guru tidak menjelaskan arti dari teks-teks itu. Kata-kata dari orang-orang suci mempunyai makna dan filosofi yang mendalam dan tidak dapat dijelaskan hanya dalam beberapa kata saja. Para siswa mungkin tidak bisa memahami dengan penjelasan yang paling menyeluruh pun. Mungkan akan diperlukan seumur hidup sang siswa untuk mencerna pengetahuan ini, memahaminya, dan mempraktekkannya sebelum dia bisa mencapai realisasi secara menyeluruh. Subjektif atau penjelasan tidak seharusnya dengan mudah bisa menyesatkan para siswa. Oleh karena itu buku-buku klasik Konfucu, sudah menjadi tradisi bahwa guru tidak menjelaskan kepada mereka pada tingkat pendidikan dasar.

Pendidikan klasik berarti para guru menjelaskan kata atau ungkapan sebagaimana ia mengkuliahi para siswanya. Ada diskusi terbuka antara guru dan siswa. Pada tingkat ini, siswa sudah memiliki sejumlah pengetahuan dan dasar-dasar akademis yang kokoh dan mampu bertukar pendapat dan berdiskusi dengan para guru. Para siswa bisa mengajukan pertanyaan dan para guru akan menjawabnya.
Pendidikan setengah dasar dan setengah klasik ada di suatu tempat di antara keduanya. Guru akan menjelaskan isi ceramahnya sampai batas tertentu, Tidak peduli jenis penelitian yang mana, jenis-jenis kuliah yang diberikan kepada para siswa sangat berhubungan dengan tingkat akademik guru.
Pendidikan Tiongkok kuno menaruh banyak perhatian pada apakah para siswa benar-benar tercerahkan dengan wawasan dan pengalaman. Hanya ketika siswa benar-benar bisa menguasai pengetahuan yang mereka anggap bermutu.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa pendidikan Tiongkok kuno tidak lebih dari menghafal mati dan karenanya membosankan. Itu tidak sepenuhnya betul. Pembelajaran yang sebenarnya adalah sebuah proses yang memiliki kesulitan. Itu adalah alami ketika seseorang bekerja keras, ia akan dihargai. Sistem pendidikan Tiongkok kuno adalah khususnya tentang bergerak maju secara bertahap. Penampilan akademik seorang siswa adalah berhubungan dengan pembinaan dirinya sendiri. Kemajuan seorang murid dalam bidang akademik adalah pencerminan dari kemajuan dirinya dalam pembinaan diri.
Pendidikan kuno tidaklah membosankan, melainkan bermanfaat dan menyenangkan. Selain mempelajari buku-buku klasik Konfucu, siswa menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam mempelajari puisi, menyanyi, kaligrafi, musik, catur, menulis, dan melukis.

Ada juga berbagai macam pelatihan khusus dalam pendidikan kuno seperti pencerahan ritme, mengupas kata-kata/ungkapan, menulis puisi, menulis artikel, memainkan instrumen musik, dan melukis. Pelatihan ini dilakukan setiap hari dan pendidikan dicampur dengan hiburan. Ini mendorong kecerdasan para siswa, melatih proses pemikiran mereka dan meningkatkan tingkat ketrampilan menulis mereka. Hal ini juga mendorong kreativitas para siswa, hasrat untuk menciptakan, dan melatih dan membina pikiran mereka dengan pemikiran-pemikiran mulia. 

Asal Usul Perahu Naga di Festival Bacang

Festival Peh Cun dan Perahu NagaBulan Juni, akan ada Festival Peh Cun (端午节), juga dikenal sebagai Festival Perahu Naga, adalah hari libur dan adat istiadat tradisional yang terkait dengan orang-orang Tiongkok dan Asia Timur lainnya dan masyarakat Asia Tenggara. Festival ini terjadi pada hari 5 bulan 5 kalender lunar. (kalender masehI: bulan Juni). Fokus dari perayaan termasuk makan bacang (zongzi) dan balap perahu naga.
Hal ini diyakini berasal di Tiongkok kuno. Tradisi ini berasal dari sejumlah tradisi rakyat dan legenda yang terjadi pada  278 SM pada Qu Yuan (340 SM - 278 SM), seorang penyair dan negarawan dari kerajaan Chu selama periode peperangan.
Ketika raja Chu memutuskan untuk bersekutu dengan negara Qin yang  semakin kuat, penyair Qu diusir dari pengadilan karena menentang aliansi tersebut dan dicap pengkhianat. Padahal penyair Qu tahu akal licik dari negara Qin. Selama pengasingannya, Qu Yuan menulis banyak puisi yang karenanya ia selalu dikenang. Dua puluh delapan tahun kemudian, Qin menaklukkan ibukota Chu. Dalam putus asa, Qu Yuan menenggelamkan diri di Sungai Miluo pada hari kelima bulan kelima penganggalan bulan.
Dikatakan bahwa rakyat yang mengaguminya melemparkan gumpalan kue beras disebut Zongzi ke sungai untuk memberi makan ikan, sehingga mereka tidak akan memakan tubuh Qu Yuan. Mereka juga mengeluarkan perahu-perahu mereka, berlayar mengitari sungai untuk menakut-nakuti ikan dan juga mencari jenazah penyair Qu. Inilah yang disebut-sebut sebagai asal-usul balapan perahu naga.
Teori lain, diajukan oleh Wen Yiduo, adalah bahwa Festival Peh Cun berasal dari pemujaan naga. Makanan yang dibuat dipersembahkan untuk raja naga, dan balapan perahu naga mencerminkan penghormatan terhadap naga dan energi “Yang” aktif yang terkait dengannya. Ini menggabungkan dengan tradisi mengunjungi teman dan keluarga di perahu.
Zongzi (Cina: 粽子) adalah makanan tradisional Cina, terbuat dari beras ketan diisi dengan isi yang berbeda dan dibungkus dengan daun bambu atau daun  alang-alang. Mereka dikukus atau direbus. Disini kita biasa menyebutnya bacang.

Asal-usul Festival Perahu Naga

altQu Yuan (sekitar 340 SM - 278 SM) adalah seorang diplomat dan penasihat raja di negara Chu (sekarang adalah China bagian Tengah dan Selatan) selama periode perang antar kerajaan. Dia dikenal karena kebijaksanaan, keberanian, kepandain berbicara, dan bakat sastra. Terutama sikap Qu Yuan yang sangat patriotik dan terus-menerus memikirkan tentang kesejahteraan negaranya.
Jin Shang, seorang pejabat di negara Chu, cemburu pada bakat Qu Yuan dan sering menyebar kebohongan tentang Qu Yuan kepada raja: "Yang Mulia, Qu Yuan sangat sombong. Karena dia sering membahas urusan negara dengan Anda, dia berpikir dirinya sangat diperlukan. Dia mengatakan kepada menteri lain bahwa tanpa dirinya, kerajaan akan runtuh. Dia hampir tidak punya rasa hormat terhadap Anda Yang Mulia! "
Raja tidak tahu siapa yang harus dia percaya dan dengan amarah Raja mengirim Qu Yuan hidup di pengasingan.

Selama Periode Perang antar Kerajaan, Kerajaan Chu dan Qin adalah saingan terkuat dari tujuh kerajaan di Tiongkok saat itu.

Raja Qin selalu ingin menaklukkan kerajaan Chu, sehingga dia membuat sebuah rencana, menawarkan wanita cantik kepada Raja Chu sebagai selir. Kedua raja sepakat untuk bertemu di Gerbang Wu (di perbatasan selatan kerajaan Qin, yang saat ini adalah Provinsi Shaanxi).

Meskipun berada di pengasingan, Qu Yuan masih terus memikirkan urusan negara. Ketika ia mendengar tentang pertemuan itu, ia bergegas kembali ke ibukota dan mendesak raja untuk tidak pergi: "Yang Mulia, saya mohon Anda untuk tidak pergi! Raja Qin sangat licik seperti ular berbisa. Saya yakin ini adalah perangkap yang telah dipersiapkan!" Tapi Raja Chu mengabaikan permohonan Qu Yuan.
alt
Seperti sudah ditakdirkan, Raja Chu dibunuh oleh raja Qin. Ketika Qu Yuan mendengar kabar itu, ia membenamkan wajahnya dan menangis, "Yang Mulia, mengapa kau tidak mengindahkan kata-kata saya?"

Seorang raja baru kemudian dinobatkan di kerajaan Chu. Tetapi sekali lagi, Jin Shang mulai menyebarkan kebohongan tentang Qu Yuan. Dan Qu Yuan kembali dibuang dalam pengasingan.

Selama di pengasingan, Qu Yuan menulis banyak puisi untuk menggambarkan kesedihannya dalam puisi patriotik. Meskipun demikian, kesedihannya itu membuat badanya semakin kurus dengan berlalunya hari.

Suatu hari, seorang nelayan tua yang sedang santai mendayung perahu kecil di Sungai Miluo melihat Qu Yuan berdiri di tepi sungai. Ia berhenti mendayung dan bertanya kepada Qu Yuan ingin tahu: "Bukankah Anda menteri dari kerajaan Chu? Mengapa Anda berada di sini dan hanya seorang diri? "

Qu Yuan memandang nelayan itu dengan sedih dan mendesah: "Anda tidak mengerti. Saya memiliki sebuah rumah namun saya tidak bisa kembali ke rumah itu. Saya sepenuh hati ingin melayani negara saya, tetapi gagal mendapatkan kepercayaan Raja. Saya telah dibuang di sini."

Nelayan itu menepuk bahu Qu Yuan dan berkata: "Mengapa begitu serius? Lihatlah, ada banyak menteri yang bahagia seperti orang kebanyakan yang bahagia, tidak peduli betapa kacaunya negara ini. Mengapa Anda tidak belajar dari mereka? Mengapa Anda terlalu khawatir? "

Qu Yuan menjawab: "Sebagai menteri, saya harus memenuhi tugas saya. Bagaimana mungkin saya hanya peduli pada kesenangan diri sendiri dan menyia-nyiakan hidup saya dalam kemerosotan? Saya seharusnya melompat ke dalam sungai untuk memberi makan ikan."

"Mungkin Anda harus melakukan apa yang saya lakukan," kata nelayan, "menarik diri menuju ke alam, mengayuh perahu saya, menangkap ikan, bersenang dengan pemandangan alam yang megah, bersenandung beberapa lagu yang bagus ... dan tidak khawatir tentang apa pun. Bukankah ini bagus? Mengapa Anda membuat diri Anda begitu sedih? "
alt
Qu Yuan berkata sambil tersenyum pahit: "Tuan,  Anda memang sangat diberkati. Tapi bagi saya, ketika saya melihat rakyat menderita dan bangsa dalam kesulitan, saya menjadi sangat tidak tenang. Bagaimana mungkin saya memanjakan diri dalam kegiatan seperti itu? "

Nelayan itu melihat bahwa ia tidak bisa meyakinkan Qu Yuan, jadi dia menggelengkan kepala, melambaikan tangan, dan mendayung pergi.

Sebuah aliran udara dingin tiba-tiba menyembur keluar dari langit biru, dan seekor angsa terbang bergegas di langit suram. Qu Yuan melihat bahwa dia tidak bisa melayani negaranya atau menemukan orang-orang seperti dalam pikirannya. Dia merasa sedih. Apa gunanya, ia bertanya.

Setelah itu, ia mengambil sebuah batu besar dan melompat ke Sungai Miluo sehingga membuat sungai menjadi beriak. Lapisan demi lapisan riak air sungai tampaknya tidak pernah berakhir memercik hingga ke seberang sungai ... secara bertahap berubah menjadi riak tak berujung. Akhirnya air sungai kembali tenang, namun Qu Yuan tidak. Hari itu adalah tanggal 5 bulan 5 kalender lunar.

Penduduk desa setempat mendengar tentang tragedi tersebut dan mendayung perahu mereka mencoba menyelamatkan Qu Yuan, tapi mereka terlambat. Dengan drum dan gong mereka mencoba mencegah ikan dan udang di sungai menggigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga membuat beras dalam wadah bambu untuk memikat ikan menjauh dari tubuh Qu Yuan.

Sejak itu, orang-orang di seluruh Asia telah merayakan Duan Wu Festival pada hari ke-5, bulan ke-5 kalender lunar dalam rangka mengenang Qu Yuan dan semangat patriotic-nya. Festival ini saat ini telah berkembang menjadi Festival Perahu Naga China dengan lomba perahu, musik drum, dan makan kue beras ketan yang dibungkus daun bambu yang disebut zongzi.