Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, June 9, 2013

I Love You Anyway

Dalam Hidup ini ada banyak yang mengisi kehidupan kita. Ada Iman ada pengharapan & ada Kasih. Nah yang terbesar diantaranya adalah Kasih




Hari itu Jum’at pagi dan seorang manajer muda akhirnya memutuskan untuk minta kenaikan gaji pada pimpinannya. Sebelum berangkat kerja, diapun juga memberi tahu istrinya apa yang akan ia kerjakan. Sepanjang hari ia merasa gelisah serta kuatir. Akhirnya, sore harinya ia kumpulkan segala keberaniannya untuk menjumpai majikannya, dan betapa gembiranya dia, ternyata bosnya itu menyetujui permohonannya.


Suami yang berbesar hati itu tiba dirumah dan disambut dengan meja makan yang tersiap begitu indah dengan porselen terbaik dan lilin2 menyala. Mencium ada bau makanan untuk pesta, ia curiga, men-duga2, seseorang dari kantornya pasti telah menelpon istrinya dan membocorkan kabar gembira itu. Ia mencari istrinya di dapur, ia begitu bersemangat membagikan detail kabar baik itu. Mereka saling merangkul dan berdansa di sekeliling ruangan itu sebelum duduk menikmati masakan enak yang disediakan sang istri itu. Disebelah piringnya ia temukan secarik catatan artistik sekali, bunyinya:
“Selamat ya, sayangku, aku sudah tahu kau bakal mendapatkan kenaikan ini! Makan malam ini untuk menyatakan padamu betapa aku mencintaimu. “

Belakangan, selagi berjalan ke dapur hendak menolong istrinya menyajikan makanan kecil, ia melihat ada sehelai kartu kedua yang jatuh dari saku istrinya. Sambil mengambilnya dari lantai, ia membaca, “Jgn kuatir jika kau tak mendapat kenaikan gaji! Walau seharusnya kau layak menerimanya. Makan malam ini utk menyatakan padamu betapa aku
mencintaimu.Apapun yg terjadi…”

Menerima seluruhnya, mendukung sepenuhnya, mencintai seluruhnya secara total. Istrinya berdiri dibelakangnya walau apapun yg terjadi, melembutkan hantaman2, menyembuhkan luka2 & meyakini serta percaya padanya. Kita boleh saja ditolak oleh banyak orang asal kita dicintai oleh seseorang.


Thursday, May 30, 2013

Lebih Dari Yang Diharapkan



Bacaan:

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah ... - I Korintus 2:9



Salah satu kunci meraih kebahagiaan di dalam dunia ini adalah dengan memberikan lebih dari yang diharapkan. Untuk bisa melakukan hal ini, jelas kita harus bebas dari sifat egois dan kikir. Ini semakin mempertegas mengapa orang yang pelit tidak akan pernah merasa berbahagia di dalam hidupnya. Kita mulai dari Allah. Seandainya Dia hanya memberikan kepada kita anugerah keselamatan, saya rasa itu lebih daripada cukup. Namun tak hanya itu, berkat-berkat lain juga diberikan kepada kita. Bahkan, apa yang tidak pernah kita lihat, apa yang tidak pernah kita dengar, dan apa yang tidak pernah timbul dari hati kita, itu semua disediakan Allah bagi kita. Jelas Dia memberikan lebih dari yang kita butuhkan dan lebih dari yang kita harapkan.

Perusahaan yang sukses biasanya selalu memberi “nilai tambah” kepada klien atau konsumennya. Yang jelas, mereka tidak hanya memberi seperti yang diharapkan, tapi memberi lebih dari itu. Pekerja yang sukses dalam karir juga selalu memberi kontribusi lebih dari yang diharapkan perusahaan. Pasangan yang sukses membangun rumah tangga juga pasangan yang selalu memberikan kasih sayang dan perhatian lebih dari yang diharapkan oleh pasangannya. Prinsip ini juga berlaku dalam pelayanan. Jika Anda adalah pemimpin rohani, atau sebut saja pendeta, sudahkah Anda memberikan yang terbaik kepada domba-domba Anda? Tidak hanya sekedar rumput untuk makanan rohani mereka, tapi benar-benar padang rumput yang hijau untuk mereka.

Michael Jordan, legendaris basket dunia, pernah ditanya kunci keberhasilannya, dan dia menjawab seperti ini, “Saya memiliki harapan yang lebih besari daripada harapan orang lain terhadap diri saya. Ketika pelatih meminta saya berlatih tiga kali seminggu, saya akan berlatih lima kali. Ketika pelatih berharap saya dapat mencetak 15 angka dalam setiap pertandingan, saya akan mencetak 36 angka! Itu sebabnya saya menjadi yang terbaik di dunia.” Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memberi lebih dari yang diharapkan?

Loyalitas/ Produktifitas











Bacaan: Titus 3:1-14

...untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.- Titus 3:14


Terkadang saya cukup sebal mendengar seseorang yang membanggakan diri dengan lamanya dia bekerja di sebuah perusahaan. Menunjukkan diri sebagai karyawan paling loyal di perusahaan itu. Jangan salah sangka, saya bukannya tidak menghargai arti sebuah kesetiaan. Kesetiaan yang dibuktikan dengan lamanya waktu bekerja memang penting. Tanpa hal ini perjalanan pun akan tersendat-sendat, bahkan bisa-bisa menjadi kacau dan yang pasti, ritme perusahaan menjadi kacau. Saya acungi jempol kepada mereka yang telah teruji secara waktu.
Namun ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar kata loyalitas saja, hasil kerja dan produktifitas! Apa gunanya kita membanggakan loyalitas kita yang berpuluh-puluh tahun tetapi sebenarnya tidak ada sesuatu yang dihasilkan sama sekali? Apa gunanya mendapat penghargaan sebagai karyawan paling loyal namun kita tidak pernah memberi dampak kepada perusahaan?
Tidak jarang kita bertemu dengan seseorang yang baru bekerja satu dua tahun dalam sebuah perusahaan. Namun, meski demikian prestasi kerjanya sangat membanggakan. Ia tak hanya menyelesaikan tugas dengan baik saja, tetapi ia juga mendukung kemajuan perusahaan. Laju perusahaan pun melaju cepat di tengah persaingan bisnis yang makin kompetitif. Langkah-langkah strategis yang ia ambil menentukan arah perusahaan yang makin efektif. Cara berpikirnya memberi warna tersendiri bagi perusahaannya. Menjadi kreatif dan inovatif sehingga kemajuan perusahaan pun terlihat dengan jelas!
Saya sangat yakin bahwa para owner akan berebut mendapatkan pekerja yang seperti ini, dibandingkan dengan pekerja yang memiliki stempel "loyalitas" saja. Jika Anda seorang yang sanggat bangga dengan stempel loyalitas yang Anda miliki, saya usulkan agar Anda juga bangga dengan stempel "kualitas kerja dan produktifitas". Orang dihargai bukan hanya dilihat dari sudut pandang loyalitas saja, tapi juga dari produktifitas kerjanya.
Orang dihargai bukan hanya dari loyalitas saja tapi juga produktifitas.

Wednesday, May 29, 2013

Merawatmu di Usia Senja

Robertson McQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai rektor diUniversitas Internasional Columbia dengan alasan merawat istrinya Muriel yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi otak.Muriel sudah seperti bayi,tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan,mandi dan buang airpun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dgn tangannya sendiri,karena Muriel adalah wanita yg sangat istimewa baginya.

Pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran, Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, sehingga Robertson kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, "Apa gunanya

saya memukulnya,walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah,saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya,saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan." Tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, hari itu adalah hari istimewa untuk Robertson dan Muriel, karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel.Menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikatMu. Amin."

Pagi harinya, ketika Robertson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya,Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel tidak pernah berbicara, memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku ... sayangku ..." Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu. "Sayangku, kau benar2 mencintaiku bukan ?" tanya Muriel. Setelah melihat anggukan dan senyum diwajah Robertson, Muriel berbisik, "Aku bahagia !" Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.

Tempat Sampah Bagi Yang Terkasih

Suatu kali seorang anak berkata kepada ibunya, "Bu, Bapak ini aneh ya, cuma begitu saja jadi marah."Ketika itu penyebabnya hanyalah secangkir teh yang tidak manis, tidak seperti yang biasa disediakan istrinya ketika dia pulang kerja. "Ya, mungkin Bapak sedang banyak masalah sehingga memendam emosi di hatinya," jawab ibunya bijak. "Ya, tetapi kok Ibu yang dimarahi, kan itu tidak adil. Ibu kan hanya kurang menambahkan gula di minuman Bapak," sanggah anaknya. "Benar sih, Nak. Tetapi, mungkin saja Bapak tidak sempat mengeluarkan emosinya tadi. Dan, kita tidak berharap kan supaya Bapak marah-marah sama orang lain? Bisa lebih kacau jadinya," jelas ibunya. Sekalipun tidak puas mendengar penjelasan ibunya, anak itu hanya diam saja.
Di hati kecil setiap manusia, tidak ada seorang pun yang mau dijadikan sasaran kemarahan orang lain. Tetapi, orang yang hidupnya dikuasai Roh Kudus akan mampu meredam setiap kemarahan orang. Seorang hamba Tuhan berkata, "90% lebih emosi seseorang dalam bentuk kemarahan dilampiaskan kepada orang-orang terdekat dan yang dikasihinya. Suami kepada istri dan anaknya, istri kepada suami dan anaknya, anak kepada orang tuanya." Hamba Tuhan ini memberi alasan bahwa mungkin saja seseorang tidak berani atau sungkan untuk marah kepada orang lain. Sehingga, tempat yang "enak" untuk marah adalah orang-orang terdekatnya. Hamba Tuhan lain berkata, "Kita harus memiliki hati bagaikan samudera, terutama bagi keluarga kita. Anda tahu samudera itu apa? Samudera adalah tempat yang bisa menetralkan setiap bangkai yang dibuang ke sana. Tidak ada bau bangkai di samudera. Hati kita juga harus bisa menampung "bangkai" keluarga kita, yaitu kemarahan dan kekesalan. Dan, menetralkan "bangkai" tersebut. Maksudnya supaya "bangkai" itu tidak dibuang ke tetangga." Memang terkesan tidak adil, tetapi itulah salah satu fungsi orang-orang yang berada di dalam satu keluarga. Daud, dia bisa garang kepada para musuhnya, tetapi dia bisa menerima kemarahan Absalom anaknya.
Di satu sisi, kemarahan itu tidak dibenarkan, tetapi di sisi lain, seorang pasangan dan seorang anggota keluarga harus siap menjadi "tempat sampah" kemarahan tersebut. Penulis Amsal mencatat, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Ams 16:32). Itu berarti bahwa seseorang yang rela menjadi "tempat sampah" tersebut akan mempunyai kekuatan untuk menang, yaitu mengambil hati mereka yang marah, bahkan sanggup membawa keluarga dalam suasana damai sejahtera. Tetapi, untuk bisa demikian, dia harus hidup oleh Roh atau mau dibimbing Roh Kudus. Tentu kita ingin keluarga kita tenang dan nyaman. Maka, mulailah dari diri sendiri untuk mau hidup dibimbing Roh Kudus sehingga sanggup menampung perkataan dan tingkah laku yang tidak menyenangkan dari anggota keluarga yang lain.
Amsal 25:15; Galatia 5:16, 22-23
Doa
Bapa, aku ingin keluargaku damai sejahtera. Mulailah dari diriku ya Bapa dengan memberi kekuatan kepadaku untuk sanggup menampung kemarahan anggota keluargaku. Amin
(Manna Sorgawi Edisi Juli 2010)

Pengalaman Lembah

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman... Mazmur 23:4
Ketika rumput sudah menipis dan mulai habis. Seorang gembala akan menuntun kawanan dombanya melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan padang rumput yang baru. Perjalanan yang melelahkan. Kadangkala harus mengitari bukit. Menerobos semuk berduri. Menginjak bebatuan tajam. Dan biasanya akan melewati lembah curam yang sukar untuk dilalui.
Itulah pengalaman Daud yang digambarkan dalam syairnya. Sehari kemarin ia dipuja gadis-gadis Israel, hari ini ia harus menghindar dari lemparan tombak
Saul. Tak hanya itu, ia menjadi buron dan harus berpura-pura gila. Pengejaran yang mengancam nyawa. Bersembunyi dari gua ke gua.
Mungkin juga hari ini kita mengalami pengalaman lembah. Jalan yang harus kita tempuh tak lagi mulus. Akrab dengan kesulitan bahkan sudah terbiasa dengan
masalah. Sungguh masa-masa sulit yang harus dijalani.
Hanya satu alasan yang membuat Daud tegar dan tak takut menghadapi semuanya itu, karena Tuhan berada di depannya! Demikian juga ini menjadi alasan untuk kita
tetap tegar saat melewati pengalaman lembah kehidupan. Kalau Tuhan ada di depan kita, apalagi yang perlu kita takutkan?
Tak selamanya kawanan domba itu merasakan pedihnya duri menusuk atau tajamnya bebatuan, atau curam terjalnya lembah yang harus dilalui. Dari kejauhan sudah
terlihat area luas berwarna hijau. Padang rumput hijau berhamparan, siap untuk mengenyangkannya lagi. Tak selamanya hidup yang kita jalani berat. Dibalik semuanya itu kita sedang dikenyangkan oleh kebaikanNya!

Tuhan Adalah Gembalaku

Meski Mazmur 23 yang ditulis ribuan tahun yang lalu. Mazmur 23 menjadi syair yang tak pernah usang. Menjadi lagu yang tak pernah lekang oleh jaman.
Kata-kata indah yang sedemikian memukau. Memberi rasa nyaman kepada siapa saja yang mendengarnya. Memberi rasa aman kepada siapa saja yang dicekam ketakutan. Memberi pengharapan kepada siapa saja yang tak memiliki pengharapan. Memberi ketenangan kepada mereka yang galau dengan beratnya perjalanan hidup.
Daud tak asal berujar. Bukan karena Daud pintar mencari kata-kata indah. Singkatnya, bukan hanya goresan puitis tanpa arti. Bagi Daud, Mazmur 23 adalah kehidupannya. Ia menggambarkan hubungannya dengan Tuhan dengan begitu jujur.

Demikian hendaknya Mazmur 23 tidak hanya sekedar menjadi tulisan indah penghias dinding kamar. Atau menjadi lagu favorite kita saja. Di tengah-tengah perjalanan
yang semakin berat, jadikan Mazmur 23 menjadi rhema dalam kehidupan. Kita akan mengalami Tuhan sebagai Gembala kita yang baik setiap hari.
Kita akan diperkaya oleh butir-butir mutiara yang terurai dalam Mazmur 23. Sebuah kata-kata bisa menjadi mutiara kehidupan kalau kita menghidupinya. Itu
sebabnya Handbook Spirit edisi bulan ini akan mencoba mengaplikasikan Mazmur 23 dalam kehidupan kita sehari-hari. Berdoa agar Anda semakin mengenal pribadi
Yesus sebagai Gembala kita yang baik.



Tuesday, May 28, 2013

Seorang Pria akan Memenuhi Janji Pernikahannya

Ditulis oleh Yi Ming   

Till we grow old and grey...
Till we grow old and grey...
Seorang pria sempurna dapat menahan segala godaan, seperti ketenaran, kekayaan dan wanita idaman lain dan menjaga dirinya tetap lurus. Berikut ini adalah dua cerita sejarah bagaimana kepribadian mereka menunjukkan karakter-karakter mereka yang berharga.
Kaisar pendiri Dinasti Han Timur Liu Xiu ingin mencari seorang pria yang pantas untuk adik perempuannya yang cantik, namun  yang menjanda, Puteri Hu Yang. Beliau bertanya kepada Puteri Hu Yang siapa kira kira yang dapat menjadi kandidat suaminya. “Song Hong memiliki sifat baik dan penampilan yang unggul.” Liu Xiu tahu bahwa ini akan menjadi hal yang sulit karena Song Hong telah menikah dan juga adalah seorang yang berbudi baik. Tetapi Kaisar telah berjanji kepada saudara perempuannya untuk membantu, sehingga beliau harus mencobanya.
Kaisar kemudian memanggil Song Hong ke istana dan meminta Puteri Hu Yang duduk di belakang layar – untuk mendengar pembicaraannya dengan Song.
Liu Xiu bertanya kepada Song secara lembut dan tenang,”Saya mendengar bahwa ketika seseorang telah menjadi kaya, orang tersebut dapat memiliki teman yang banyak dan juga dapat mengganti istri yang lama dengan istri yang baru. Apakah ini benar bagi rakyat biasa?”

Song Hong tidak ragu-ragu untuk menjawab,”Yang Mulia, saya mendengar bahwa seseorang tidak akan membuang teman temannya ketika menghadapi kemiskinan dan juga tidak akan mengganti istri seseorang ketika sedang kelaparan.”
Setelah mendengar jawaban Song Hong, Kaisar Liu Xiu tahu apa yang dipikirkan oleh Song Hong dan kemudian berbisik kepada adik perempuannya,”Saya berpikir tidak akan ada pernikahan antara kamu dan Song Hong.”
Cerita yang sama pada era yang berbeda:
Perdana Menteri Qi Yan Zi sedang mengadakan pesta di rumahnya untuk Raja Qi, Jing Gong.

Qi Jing melihat isteri Yan Zi dan bertanya,”Apakah dia isterimu?”
Yan Zi menjawab,”Ya.”
till we grow old and grey...
till we grow old and grey..

Qi Jing Gong kemudian berkata,”Isterimu jelek dan tua. Marilah. Saya memiliki anak perempuan yang manis. Saya akan menikahkannya denganmu. Bagaimana menurutmu?”
Yan Zi berdiri dari tempat duduknya dan menolaknya secara hormat,”Istri saya telah mendampingi saya selama berpuluh-puluh tahun. Dia mungkin telah tua dan jelek, tetapi sebelumnya dia sangat manis dan juga muda. Dia mempercayai saya dengan hidupnya, dan saya telah berjanji kepadanya untuk menjaganya sampai kita dipisahkan oleh maut. Saya menghargai budi baik Yang Mulia, tetapi saya tidak dapat menerimanya. Jika saya menerimanya, saya telah menghianati janji saya kepada isteri saya.”
Isteri seorang pria adalah pasangan hidup yang bersama-sama menghadapi tahun tahun yang penuh penderitaan dan kesederhanaan, sehingga seorang pria tidak akan menggantikannya untuk mendapatkan isteri yang lebih muda atau lebih cantik. Untuk bertanggung jawab kepada pasangan hidupnya, tidak mengabaikannya, baik dalam masa susah atau senang, adalah sebuah prinsip pernikahan yang sangat mulia.

Tabur Tuai



Renungan :


Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.


Jadi……
Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

Korek api mempunyai kepala,
tetapi tidak mempunyai otak,
oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.


Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil.


Ketika burung hidup, ia makan semut.
Ketika burung mati, semut makan burung.


Waktu terus berputar sepanjang jaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut.


Jangan merendahkan siapapun dalam hidup , bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.


Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.


Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita,
Waktu kita tak berdaya, barulah kita sadar selama ini siapa kualitas orang yg hanya memperalat & menggunakan kita.


Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi harta.


Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.


Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.


Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama² membuat HIDUP LEBIH BERHARGA


Saling menghargai,
Saling membantu dan memberi,
Saling mendukung,
Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat,
Jauhkan niat tdk baik seseorang melakukan suatu hal yang menyimpang untuk kepentingan pribadi kita.


Believe in “Cause and Effect”


Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai..

sumber : http://pengharapan.com/tabur-tuai.html#more-1474

Sunday, May 19, 2013

Belajar Mencintai dari Cicak

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.
Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akan.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya....AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan..... Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!




Kisah ini berasal dari Jepang.

Aku Berubah Hanya Karena Dia

Dalam harian bahasa Mandarin "The Liberty Times" muncul sebuah tulisan kecil namun menarik perhatianku. Judul tulisannya berbunyi: "Aku berubah hanya karena dia". Penulisnya adalah seorang wanita yang mengisahkan bagaimana pertemuannya dengan seorang cowok telah mengubah cara hidupnya di masa silam, dan lebih lagi telah membantunya untuk sungguh menjadi seorang feminine. 

"Sejak kecil aku selalu senang mengenakan pakaian cowok, mengenakan celana jeans, rambut dipotong pendek. Beberapa kali saya membangun persahabatan dengan lawan jenis. Namun lima pacarku pada akhirnya selalu saja menolak aku dan cerai karena aku kurang menunjukan sikap feminine. Namun sejak aku bertemu dengan 'dia' aku kini sungguh telah berubah. Sejak kecil aku tak pernah menyukai warna merah muda. Namun demi 'dia' saya mulai menyukai segala yang berwarna merah muda, mulai dari warna hand phone, pakaian, bahkan tali pengikat rambut. Sejak kecil aku senang memakai sepatu sport. Namun sejak bertemu dengannya saya sudah menjelajahi semua toko yang menjual sepatu yang bertumit tinggi. Sering kakiku lecet karena harus mengenakan sepatu kulit, tetapi saya menahan semua rasa sakit itu. Saya adalah seorang yang takut kedinginan, dan lebih senang memakai celana jeans panjang. Namun hanya karena 'dia' walaupun udara dingin, saya mulai memakai rok walau kadang aku harus diserang flu. Berbagai jenis rok, mulai dari jenis sutra hingga rok jeans mulai aku beli. Ini terjadi sejak saya bertemu dengannya. Dulu saya tak senang menggunakan parfum. Namun kini aku mulai belajar bagaimana harus memilih jenis minyak wangi, aku mulai belajar bagaimana harus merias diri. Hanya karena 'dia' aku kini telah berubah. Aku kini telah berubah menjadi lebih baik dari dulu, aku kini berubah menjadi seorang yang sungguh-sungguh perempuan, hanya karena 'dia'." 

Dalam bacaan yang diambil dari Kisah Para Rasul 20:17-27, kita mendengar bagaimana Paulus berkisah tentang nasib yang pernah dan akan menimpa dirinya. Ia menasihati jemaat yang datang bertemunya di Miletus untuk bertekun mewartakan pertobatan kepada orang Yahudi dan Yunani sebagaimana telah diperbuatnya sendiri. Dan kini oleh desakan Roh, Paulus akan beralih menuju Yerusalem walaupun ia sendiri tahu apa yang akan terjadi atas dirinya di Yerusalem. Roh Kudus telah menyatakan kepada dirinya bahwa penjara dan sengsara telah menantikan kedatangannya di Yerusalem. Namun demikian Paulus tidak merasa takut. Paulus tidak melarikan diri, ia tidak mengelak. Ia dengan berani memasuki kota abadi Yerusalem, dengan berani menghadapi dan menerima tantangan tersebut. 

Kita mengenal siapakah Paulus ini sebelumnya. Dahulu ketika Paulus masih menyandang nama seorang 'Saulus', ia adalah seorang musuh orang-orang Kristen. Ia adalah musuh para pengikut Kristus. Ia dengan berbagai cara telah berusaha agar kelompok kristen dibekukan, agar mereka tidak membuka mulut dan bersaksi tentang Yesus yang bangkit. Ia telah memberikan peritah untuk merajam Stefanus dengan batu hingga mati. Itu adalah kisah masa silam tentang Paulus. Namun saat ini ia telah berubah. Dan apa yang telah membantu perubahan mendasar dalam diri Paulus? Sama seperti tulisan kecil di atas, Paulus telah menjawab bahwa 'DIA' (Yesus yang bangkit) telah mengubah dirinya. Hanya karena 'DIA' Paulus kini berubah. Hanya karena 'DIA' Paulus kini bersedia menerima hukuman penjara, bahkan rela menerima ajalnya di ujung sebilah pedang. Hanya karena 'DIA'. 

Apakah akupun telah ikut berubah? Apakah anda juga telah ikut berubah seperti Paulus? Apakah 'DIA' telah menjadi kekuatan yang bisa meluluhkan kekerasan bathin kita dan bangkit berdiri dan secara tegas bersaksi tentang 'DIA' yang bangkit? Semoga kitapun boleh berkata; Hanya karena 'DIA' saya kini telah berubah.

1001 Burung Kertas


Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.

Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.

Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “ Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.

Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.

Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.

Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo.

Reo membaca surat itu. “Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Reo................................

July “ Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan.July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita

Diceritakan ulang oleh


Thomas KMK St Petrus

sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=786&next=0

Aku dan Sahabatku

Ini adalah kisahku tentang sahabatku.... 

Aku punya seorang sahabat yang selalu menemaniku, kemanapun aku pergi. 
DIA sangat baik padaku, DIA mengajariku dalam banyak hal. 
DIA menghiburku saat aku sedih, dan megusap air mataku, kala ku menangis. 
DIA menuntunku saat ku lemah, dan menggendongku saat ku tak mampu lagi tuk melangkah. 
DIA ada, dan selalu ada untukku, bahkan saat yang lain meninggalkan aku. 

Tapi sayangnya, aku tidak pernah berterimakasih pada-NYA. 
Aku selalu menyakiti hati-NYA. Jika terjadi sesuatu dengan diriku, aku selalu menyalahkan-NYA. 
Aku sering berteriak pada-NYA, walau aku tahu DIA ada di dekatku. 
Berkali-kali aku marah pada-NYA dan tidak mau bicara pada-NYA. 

Kadang aku menyesal dengan semua sikapku. 
Kadang aku menangis dan berjanji, tidak akan mengulanginya lagi. 
Tapi anehnya, aku selalu melakukannya lagi...lagi dan lagi... 

Ya,, aku memang sahabat yang tidak tahu berterimakasih. 
Tapi DIA, sahabatku itu tetap memilih aku menjadi sahabat-NYA. 
DIA menolak untuk meninggalkan aku. 
Aku heran dan aku bertanya pada-NYA. 
Apa alasan-NYA menolak meninggalkan aku ??? 

Inilah yang DIA katakan padaku : 
'' oleh karena engkau berharga dimata-KU dan mulia , dan AKU ini mengasihi engkau..''(YES 43:4a) 
'' Lihat AKU telah melukiskan engkau di telapak tangan-KU..'' (YES 49:16a) 

Allah tidak akan menyia-siakan umat yang patuh kepadaNya


Pengalaman iman ini benar-benar luar biasa aku alami. Aku pernah membuat keputusan sendiri dan berjanji dalam diri sendiri: " bahwa tidak akan pernah lagi memberikan pinjaman uang kepada siapapun dengan alasan apapun" hal ini timbul karena sudah sering mengalami kebohongan dari si peminjam, baik dari keluarga sendiri maupun teman/sahabat, karena seringkali terjadi meminjamkan dan tidak kembali/hangus. tekad dan janji dalam hati untuk tidak memberikan pinjaman kepada siapapun dengan alasan apapun cukup lama aku terapkan dalam hidupku.

namun pada suatu hari ditahun 2008 aku ikut kegiatan KEP (kursus evangelisasi pribadi) yang diselenggaran oleh paroki kami. Pada saat mengikuti ujian akhir KEP sekaligus diadakan rekoleksi. didalam acara tsb ada kegiatan pencurahan roh kudus, namun sebelumnya semua peserta harus mngakui dosa terlebih dahulu di hadapan imam. Dalam pengakuan dosa inilah aku mencoba minta ampun kepada Tuhan Yesus yang salah satunya adalah kekerasan hatiku yang enggan memberi bantuan kepada orang lain dalam bentuk meminjam uang kepada yang memang membutuhkan.
singkat cerita; setelah 1 minggu berlalu, tengah malam sekitar jam 23.00 wib HP ku berbunyi, sebelum ku angkat dalam hati bertanya jangan2 ada masalah apa ya malam2 begini ada yang telepon?? ternyata dugaanku benar, keluarga dari kota lain meminta bantuan pinjam uang rp 15 juta, katanya dia menabrak orang waktu nyetir mobil dan pihak keluarga yang ditabrak minta ganti rugi rp 25 jt dan keluargaku ada uang cuma rp 10 jt. disitulah saat yang sangat sulit bagi aku, dan dalam hatiku bergejolak antara mengatakan sanggup atau mengatakan tidak punya uang, padahal aku bisa mengupayakan uang sebesar itu.
karena pengalaman buruk meminjamkan uang tanpa kembali tetapi aku sudah mengaku dosa untuk berubah sikap. Betul2 dalam kebimbangan. Namun suara Tuhan mengalahkan suara iblis, akhirnya aku jawab " besok aku upayakan tranfer, smskan no.rekeningmu" jawab aku di hp.

Akhirnya uang yang diminta aku transferkan namun aku minta dia bisa kembalikan secara cicilan aja biar tidak berat, dan disanggupi oleh dia.
ternyata pengalaman buruk terjadi lagi padaku, setelah pinjam uang dia hanya 1 kali mengangsur sbs rp 1 jt dan sisanya tidak ada bekas dan sampai saat inipun tidak pernah menghubungi aku lagi dan tidak tahu kabar berita keberadaannya dimana, dan setelah aku berupaya cari tahu, ternyata dia memang bohong, karena dia tidak bisa menyetir mobil, bagaimana bisa menabrak orang. itu hanya alasan saja supaya bisa mendapatkan uang, ternyata dia kalah main saham. tapi dalam hatiku aku sudah mengiklaskan kehilangan uang tsb dan tidak akan mengingatnya lagi.

ternyata Allah sungguh Maha mengetahui, 3 bulan sejak kejadian tanpa diduga dan disangka saya diminta menjualkan tanah milik teman dan ternyata ada pembeli yang mau membeli tanah tsb, dan akhirnya dari hasil transaksi jual-beli tanah tsb saya mendapatkan komisi yang besarnya 1,5 X dari jumlah uang saya yang hilang.
disini saya mau sharingkan : bahwa kita kalau benar2 melaksanakan perintah/teladanNya, pasti dan yakin tidak akan sia2. mengutik dari :
"Amsal 3 : 1-2" : Hai anakku janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihat perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. ......... amin


paulus sinkiang



sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=1560&next=0


Aevo, si Pendaki Gunung

Bercerita tentang seorang pendaki gunung yang bernama Aevo, yang memaknai hidup dari perjuangan yang dia lakukan. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menaklukkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan mana yang terindah. Semakinn tinggi gunung yang dia taklukkan, semakin indah pemandangan yang ia dapatkan. Hingga pada suatu kesempatan,Aevo memutuskan untuk mendaki sebuah gunung yang amat tinggi. Aevo merasa itulah gunung tertinggi yang pernah ia hadapi. Dalam hati Aevo ada ketakutan,hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasa pula, Aevo berusaha menenangkan hatinya. 

Setelah merasa cukup tenang,Aevo mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Mendaki gunung yang akan menghadiahi dia banyak tantangan dengan bekal seadanya. 

Tidak terasa, Aevo sudah mendaki seperempat dari gunung tersebut. Aevo melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, "Ah, masih belum jauh." Sambil terus melangkahkan kakinya. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat Aevo panik, dan ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya, menyadarkan ular tersebut akan kehadiran Aevo di sekitarnya. Ular tersebut memandang Aevo yang sedang berusaha tenang, dan ternyata ketenangan Aevo akhirnya membuat ular tersebut pergi. 

Aevo melanjutkan perjalannya dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuat Aevo kehilangan tenaga. Kini Aevo sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat Aevo sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui, dan yang masih akan dia jalani. Ditambah dengan bekal yang sudah sangat menipis. Aevo takut akan mati di tengah jalan. Sesaat kembali Aevo duduk dan mengumpulkan semangat, kembali pada motivasinya. Setelah yakin, Aevo kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram. 

Sampailah Aevo pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana. Yang mungkin tewas saat mendaki dunung tersebut. Segera Aevo membuka bekal dan terkejut. Tinggal sepotong roti di sana. Pikiran Aevo terguncang, takut akan kematian yang ada dalam benaknya. Namun saat memandang ke bawah, Aevo sadar, sudah terlalu jauh. Saat memandang sekelilingnya, Aevo mulai melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun masih buram. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera Aevo menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan akan mendaki gunung tersebut sampai tuntas. 

Langkah-langkah Aevo terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Aevo terus berusaha, walau terjatuh beberapa kali. Naik, naik, dan terus naik. Sampai Aevo melihat sebuah hamparan tanah datar, dan Aevo kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi. Aevo mencoba membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Aevo sampai di puncak gunung. Gunung tersebut telah takluk. Aevo mengucap syukur, dan dengan pasrah menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Dedu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya. Eidelways sebagai hiasan dan batu gunung sebagai batu nisannya. 

Inilah gambaran kehidupan yang akan, atau sedang, atau mungkin yang seharusnya kita alami. Tetaplah berusaha, yakin pada tujuan hidup kita. Percaya bahwa dari setiap perjuangan akan ada hasil. Sehingga kita pun dapat menghargai hidup kita, dan semakin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita. Yang akan menghargai setiap usaha dalam hidup kita sesuai harga yang telah Dia tentukan. Sampai akhirnya kita pergi dari dunia dengan kepuasan hidup, dan yang terutama kelepasan yang sesungguhnya.

Ada Suatu Kejadian Dimasa Kanak-Kanak


Ada suatu kejadian dimasa kanak-kanak:

Pada suatu waktu anak-anak sedang duduk-duduk didatangi oleh seseorang yang tidak terlalu muda dan belum terlalu tua dan kita sebut saja bapak. Kemudian bapak tersebut memanggil anak-anak untuk datang sambil mengeluarkan setumpuk kartu remi. Setelah anak-anak berkumpul, bapak tersebut berkata bisakah melihat apa yang bapak lakukan, dan anak-anak berkata bisa pak.
Kemudian bapak tersebut mengocok kartu remi, mengambil dan membuka satu lembar kartu dan diletakkan disebelah kiri dan yang lainnya dipegang ditangannya.

Jika satu lembar kartu tersebut menunjukkan angka 3, maka ia menambahkan dengan kartu yang dipegangnya satu per satu sampai menjadi 10 (angka 3 yang muncul dari satu lembar kartu + 7 kartu yang diturunkan dari kartu yang masih dipegang) dan meletakkannya disebelah kanan.
Ini dilakukan seperti di atas berulang sampai 3 buah kartu. Sehingga ada 3 lembar kartu yang terbuka disebelah kiri, ada setumpuk kartu disebelah kanan dan masih ada tersisa setumpuk kartu ditangan bapak tersebut.

Kenudian bapak itu berkata, nah kalian (anak-anak), jika kalian melakukan ini ditempat tersembunyi yang bapak tidak melihatnya, maka bapak akan dapat mengetahui jumlah 3 lembar kartu yang terbuka tersebut. Tapi kalian harus membawa sisa kartu yang kalian pegang kepada bapak, sebab kartu ini akan bapak gosokkan dengan batu cincin yang bapak pakai dan batu cincin itu akan mengatakan kepada bapak jumlah dari 3 lembar kartu yang terbuka tersebut.

Pada saat itu anak-anak tertawa, karena tidak percaya. Tapi kemudian anak-anak tersebut menjadi bimbang antara percaya dan tidak percaya karena bapak tersebut selalu dapat menebak dengan benar. Makin lama anak-anak tersebut menjadi sebahagian percaya dan malah setiap kali bapak tersebut menggosokkan sisa kartu tadi dengan batu cincinnya dan kemudian mengatakan jumlah angkanya, anak-anak yang percaya menempelkan telinganya kepada batu cincin si bapak dan mengiyakan bahwa batu tersebut sudah mengatakan jumlah angkanya. Sebahagian anak-anak mengatakan, bapak tersebut orang sakti.

Dan ini sudah dilakukan beberapa hari oleh bapak tersebut, jika bapak tersebut mampir dan melihat anak-anak. Tapi ada seorang anak, sebut saja namanya hikmat, dia tetap mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh bapak tersebut, bahwa batu cincinnya bisa berbicara adalah tahayul. Karena jika telinganya didekatkan dengan batu cincin si bapak, dia tidak mendengar suara apapun.

Lalu bagaimana si hikmat tersebut dapat mengatakan bahwa itu adalah tahayul, sedangkan teman-temannya mengatakan itu bukan tahayul dan mempercayainya.

Pada suatu hari dia membeli kartu remi, kemudian dia masuk kedalam kamarnya dan sendiri dia berada dalam kamar tersebut. Kemudian dia mencoba permainan yang diajarkan oleh bapak tersebut.

Dia mengocok kartu, mengambil dan membuka satu lembar kartu pertama dan meletakkan disebelah kiri dan angka yang muncul adalah 2, kemudian dia menurunkan 8 lembar kartu dari kartu yang dipegangnya dan meletakkannya disebelah kanan.
Dia mengambil dan membuka satu lembar kartu kedua dan meletakkan disebelah kiri dan angka yang muncul adalah 5, kemudian dia menurunkan 5 lembar kartu dari kartu yang dipegangnya dan meletakkannya disebelah kanan.
Dia mengambil dan membuka kartu terakhir yaitu satu lembar kartu ketiga dan meletakkan disebelah kiri dan angkanya adalah 7, kemudian dia menurunkan 3 lembar kartu dari kartu yang masih dipegangnya dan meletakkannya disebelah kanan.
Kemudian sisa kartu yang biasanya diberikan kepada bapak itu untuk digosokkan dengan batu cincinnya sehingga batu cincin itu dapat berbicara, dia hitung jumlahnya adalah 37. Kemudian dia catat dalam kertas: jumlah angka 14, sisa kartu 37.

Dia kumpulkan kembali kartunya dan dikocok lagi, kemudian dihitung lagi, kemudian mencatat hasilnya dan ini dia lakukan sampai lima kali.

Kemudian dia membaca hasilnya.

1. Jumlah angka 14, sisa kartu 37
2. Jumlah angka 12, sisa kartu 35
3. Jumlah angka 6, sisa kartu 29
4. Jumlah angka 3, sisa kartu 26
5. Jumlah angka 10, sisa kartu 33

Kemudian dia mencoba mencari selisihnya.

1. selisih 23
2. selisih 23
3. selisih 23
4. selisih 23
5. selisih 23

Dia penasaran dan mencobanya lagi, dan hasilnya sama yaitu selalu selisih 23.

Akhirnya dia berkesimpulan, bapak tersebut dapat menebak dengan tepat bukan dari batu cincinnya yang bisa bicara, tapi dari sisa kartu yang dipegang bapak tersebut dan dikurangi 23 akan menghasilkan jumlah angka dari 3 lembar kartu tersebut.

Total seluruh kartu adalah 56. Keesokan harinya dia menceritakan apa yang telah dia lakukan kepada teman-temannya, dan teman-temannya menjadi berbalik dan mengatakan bahwa bapak itu tahayul.

Disini dapat kita lihat bahwa si hikmat telah menggunakan

1. Iman (tidak percaya, batu bisa bicara),
2. Indera (dia tidak mendengar sepatah katapun dari batu tersebut) dan
3. Akalnya (selisih angka 23, sehingga kartu tersebut selalu dapat ditebak)

untuk dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan seorang bapak tersebut adalah tahayul.
Ternyata permainan ini dapat dilakukan dengan selisih yang berbeda, jika total seluruh kartu minimal 27 lembar kartu.

Pergunakanlah selalu, Indera, Akal dan Iman kita untuk dapat mengungkapkan kejadian-kejadian yang sering terjadi akhir-akhir ini.


F. Kusumba
Email: fkusumba@telkom.net

sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=962&next=0

Air Terjun


Adalah air terjun di suatu daerah yang terpencil dan jauh yang dikenal berkhasiat menyembuhkan bagi yang sakit dan memuaskan dahaga bagi setiap pendatangnya.
Air terjun ini bebas bagi setiap pengunjung yang ingin mendatangi dan mengagumi panorama di sekitarnya.
Banyak orang yang iri pada penduduk yang tinggal di sekitar air terjun ini karena mereka bisa menikmati air berkhasiat itu serta damai,segar dan tenangnya alam.

Pada air terjun itu ada yang bersenang-senang dan berenang dibawah guyuran air, ada yang menampung air itu untuk dibawa ke rumah masing-masing.
Beberapa orang membeli dan membawa ember berwarna hijau untuk menampung air terjun yang berkhasiat itu, beberapa orang lagi membawa ember berwarna merah dan warna warna lainnya sesuai dengan kesukaan mereka.

Disaat mereka telah tiba di rumah masing masing maka mulailah mereka bercerita tentang indahnya alam di sekitar air terjun itu dan menunjukkan oleh-oleh air yang mereka dapatkan. Serta membagi-baginya pada sanak saudara dan handai taulan dengan botol yang berwarna sama seperti embernya. Mereka yang menerima oleh-oleh itu begitu bangga sehingga menyimpannya sebagai hiasan dan bukti bahwa mereka mempunyai air dari air terjun yang sangat terkenal itu.

Si pembawa oleh-oleh air itu akhirnya meninggal dan oleh-oleh yang dia bagikan tetap tersimpan berikut cerita tentang keindahannya dan menjadi kenang-kenangan turun temurun. Pada akhirnya mereka yang menyimpan air itu menyatakan bahwa mereka mengerti sepenuhnya tentang air terjun tersebut dan mulai bercerita begitu lancarnya. Semua orang yang diceritakan tentang alam air terjun itu berikut kenang-kenangan air yang ada terus mengaguminya dan mulailah air itu menjadi begitu tak ternilai sehingga banyak orang yang menyatakan bahwa air yang diambil dari ember merahlah yang asli dan sebaliknya bagi mereka yang mendapat air dari ember dari warna yang berbeda pun menyatakan hal yang sama.

Pada suatu saat bertemulah salah satu penyimpan oleh-oleh air dari botol berwarna merah dengan botol berwarna biru, merekapun mulai memperdebatkan keaslian air yang mereka punya. Tanya jawab sengitpun bergulir baik pertanyaan tentang posisi air terjun, susunan batu disekitar air terjun dan habitat tanaman ataupun hewan apa saja yang ada disana untuk membuktikan air siapakah yang asli. Perdebatan tak pernah berakhir karena semuanya merasa bahwa hanya air merekalah yang asli dari air terjun itu.

Di lain tempat di sekitar air terjun yang menjadi perbincangan masih ditemukan penjual yang menjajakan ember berbagai warna bagi para pengunjung yang ingin membawa air sebagai oleh-oleh dan tak jauh adapula beberapa orang yang membawa ember yang berwarna apa saja saat menjumpai para pencari air terjun yang cedera juga kehausan dan belum sampai di tujuan dengan senangnya mereka membagi air tersebut supaya para pejalan itu mendapatkan kekuatan untuk sampai di air terjun itu.

Kasih karunia Tuhan itu bagaikan air terjun yang takkan pernah habis dan bebas bagi siapa saja. Rasanya hanya membuang waktu jika kita memperdebatkannya. Adalah lebih berguna jika air itu dapat kita bagi bagi siapa saja yang membutuhkan ataupun yang kehausan tanpa harus melihat botol warna apa yang kita punya
Sungguh melelahkan jika harus mencari orang yang membutuhkan tetapi harus dengan botol yang berwarna sama dengan ember yang kita punya, seperti air terjun yang tak memilih ember yang ingin menampung airnya, terus mengalir dengan derasnya. 


Dewi Hoediati
Email: dewi_hoedi@yahoo.com

sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=1618&next=0

Allah Bapa Seperti Pemulung

"Ada satu hal di mana TUHAN tidak berkuasa untuk melakukannya" TUHAN tidak berkuasa untuk tidak menepati janjiNYA. Ia begitu setia akan janjiNYA.(Mazmur 12:7) 

Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb. 

Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar seorang anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!" "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. 

Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. 

Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" 

Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya." 

Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah. 

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." 

Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu sendiri melainkan pemberian Allah. 

Our God is able! "Not by power, not by might, but by My Spirits, says the LORD" (Zach 4:6)

Air Mendidih

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. 

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. 

Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, Ayah?" Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. 

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. 

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. 

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. "Kamu termasuk yang mana?," tanya ayahnya. "Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?" 

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu. 

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? 

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.


Kekayaan yang Tidak terlihat


Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung, dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.
Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.
‘ Bagaimana perjalanan kali ini?’
‘ Wah, sangat luar biasa Ayah’
‘ Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin’ kata ayahnya.
‘ Oh iya’ kata anaknya
‘ Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?’ tanya ayahnya.
Kemudian si anak menjawab.
‘ saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.
Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.
Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.
Kita memiliki patio sampai ke! halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.
Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.
Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.
Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.
Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.’
Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.
Kemudian sang anak menambahkan ‘ Terimakasih Ayah, telah menunjukan kepada saya betapa miskinnya kita.’
Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang. Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jikakita semua bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih.