Wednesday, May 29, 2013

Simpul Tali Tiongkok


Simpul-tali Tiongkok pada mulanya dibuat dengan tujuan pencatatan – kemudian ia juga memenuhi berbagai kebutuhan lainnya. (Foto: Dajiyuan)
Simpul-tali Tiongkok pada mulanya dibuat dengan tujuan pencatatan – kemudian ia juga memenuhi berbagai kebutuhan lainnya. (Foto: Dajiyuan)
Sejarah simpul tali ala Tiongkok (中國結 zhong guo jie) membentang melalui perkembangan 5.000 tahun peradaban Tiongkok. Pada masa prasejarah, simpul-tali sudah dipakai untuk tujuan penandaan sesuatu.
Kebudayaan Tionghoa membahas perihal: 結繩記事 Jie Shen Ji Shi – Tali ditarik simpul dengan tujuan untuk memberi tanda pada suatu hal dan 大事大結其繩 (da shi da jie qi sheng)、小事小結其繩 (xiao shi xiao jie qi sheng) – Untuk kejadian besar dibuatkan simpul besar dan untuk kejadian kecil dibuatkan simpul kecil.
Pada masa awal peradaban dan kebudayaan Tiongkok, mereka juga memandang magis pada tali, karena kata tali 繩 (sheng) di dalam bahasa mandarin pengucapannya mirip kata Shen – ketuhanan.
Selain daripada itu, aksara tali juga memiliki sebuah makna tersendiri dalam bidang pemujaan bagi orang Tionghoa, yang disebut juga sebagai rakyat sang naga, karena aksara Tali menyerupai seekor naga yang sedang meliuk bergerak.
Simpul-tali menerima sebuah makna metafor di dalam kebudayaan Tionghoa juga berkat linguistik asalnya. Aksara 結 (jie - simpul) asalnya terdiri dari 絲 (si) dan 吉(ji), dimana 絲 (si) bermakna sutera atau tali dan吉(ji) bermakna: makmur, berstatus sosial tinggi, panjang usia, kebahagiaan, kekayaan, kesehatan dan keamanan.
Aksara 結 (jie) melambangkan kekuatan, harmoni dan keterikatan perasaan kemanusiaan, yang direfleksikan di dalam sebuah deretan kata-kata bahasa mandarin yang mengandung kata 結 (jie), seperti misalnya 結實 (jie shi = kokoh), 結交 (jie jiao = mengikat persahabatan), 結緣 (jie yuan = merajut takdir pertemuan), 結婚 (jie hun = kawin), 團結 (tuan jie = bersatu-padu).
Sehubungan dengan keterkaitan yang mendalam dari simpul-tali Tiongkok ini dengan kebudayaan lokal, teknik simpul tersebut sebagai kesenian rakyat senantiasa dikembangkan dan diwariskan turun temurun.
Teknik simpul-tali Tiongkok berkembang ke sebuah bentuk seni sesungguhnya selama dinasti Tang (618-907 M), Song (960-1279 M) dan akhirnya mengalami masa paling jaya pada zaman dinasti Ming dan Qing (1368-1911 M) – di zaman itu pula secara lebih meluas simpul-tali digunakan pula pada busana tradisional.
Jauh melampaui sebuah penggunaan sebagai ornamen dekoratif untuk perayaan, unsur gaya dari simpul Tiongkok menemukan tempatnya di kalung, stek sanggul dan pernak-pernik dekorasi gantung. Simpul tertentu seperti "Simpul bahagia" dipergunakan sebagai azimat untuk menolak bala dan mengalahkannya, menghindari musibah dan mendatangkan kebahagiaan.
Beberapa abad lalu terutama di Tiongkok yang masih dikuasai komunis, bentuk kesenian ini kehilangan maknanya. Baru pada akhir tahun 90-an kesenian simpul-tali tersebut seperti halnya bordir dan busana tradisional ditemukannya kembali. Semenjak saat itu mulai digemari dan menyebar di kota-kota.

Sebuah Tali Menyimpul Harapan Baik

Karakteristik dari simpul-tali Tiongkok ialah ia dibentuk dari seuntai tali saja. Tali sepanjang minimal 1 meter sesuai metode, urutan dan aturan yang sudah ditetapkan, dibalut, dirol, disulam dan ditarik, sehingga menjadi simpul yang beraneka ragam dan memikat. Memang simpul tertentu betul-betul rumit dan penuh seni dalam pola dan desainnya, mereka kesemuanya adalah sebuah kombinasi dari maksimal 20 macam teknik dasar. Simpul Tiongkok terlihat sama dari depan dan belakang.

Bagaimana Simpul-simpul Memperoleh Namanya

Berbagai kemungkinan bagaimana simpul-simpul tersebut bisa dinamakan demikian. Simpul-tali yang berlainan memperoleh nama bisa dari bentuk atau tujuannya, lokasi dimana mereka terjadi, dimana mereka ditemukan atau makna di balik nama simpul tersebut.
Maka "Simpul uang dopel" kurang lebih menyerupai 2 buah uang logam tembaga dari zaman Tiongkok kuno yang terbelah di tengah dan ditaruh. "Simpul kenop" memiliki nama dari penggunaannya.
"Simpul 10-ribuan" mirip bukan saja dalam bentuk swastika Budha yang oleh orang Tionghoa juga dipakai untuk memaknai angka 10 ribu, ia selain itu juga acapkali muncul pada sabuk patung Guan Yin sang bodhisatwa kebajikan.
 "Simpul tak terhingga" meniru 8 simbol kebudhaan yang berarti sirkulasi abadi, dari situ semuanya berkembang biak. Simpul-tali menekankan secara seksama pertali-temalian yang tak terhingga ini dan merupakan dasar dari banyak variasi-variasi.(whs)

Sumber:

  醫 (Yi) - Medizin, medizinische Behandlung   [ 18.11.2007 ]
  Die Rätsel der chinesischen Schriftzeichen (1)   [ 03.09.2007 ]

Sumpit Cerminkan Perbedaan Budaya Kuliner Tiongkok dan Jepang


sumpit-china-jepang
Kurang lebih selama tiga tahun ini, saya hidup di Tiongkok. Dalam kurun waktu ini saya melihat adanya perbedaan kebiasaan dan tradisi antara Tiongkok dan Jepang. Menurut saya yang paling menarik dan paling sulit untuk dimengerti adalah masalah sumpit. Jika kita makan di restoran Tionghoa umumnya kita bisa melihat penggunaan sumpit tradisional Tiongkok, yang sama sekali berbeda dengan sumpit yang digunakan di Jepang.

Perbedaan yang pertama adalah, di Jepang, sumpit yang digunakan oleh pria lebih besar dari pada sumpit yang digunakan oleh wanita, namun di Tiongkok tidak ada perbedaan seperti ini. Perlu saya jelaskan pula, di Jepang ada sejenis mangkok yang sepasang untuk pasangan suami istri juga terdapat perbedaan seperti itu, mangkok yang digunakan pria lebih besar dari pada mangkok wanita, ini menandakan porsi makanan wanita lebih sedikit dari pada pria, sementara di Tiongkok tidak ada konsep seperti itu. Maka dari itu peralatan yang digunakan pria maupun wanita sama sekali tidak ada perbedaan, sehingga sama sekali tidak membedakan siapa yang seharusnya menggunakan sumpit ini, atau siapa yang seharusnya memakai mangkok ini.

Lalu panjang pendeknya sumpit, sumpit di Tiongkok jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan sumpit di Jepang. Mengapa bisa demikian?

Menurut saya, adalah kebiasaan makan masakan Tionghoa, dimana semua orang duduk berkeliling mengitari meja besar yang umumnya dipenuhi dengan banyak sekali jenis masakan. Jika menggunakan sumpit yang panjang, masakan yang terletak berjauhan tetap dapat diraih dengan mudah, juga dapat menjepitkan makanan bagi orang – orang yang duduk di dekat kita, untuk menunjukkan keramahan dan kegembiraan menerima tamu kita.

Berbeda halnya dengan masakan Jepang, setiap orang telah diberikan porsi makanannya secara tersendiri, sama sekali tidak ada masalah dalam meraih dan menjepit makanan, juga tidak perlu mengambilkan atau menjepitkan makanan untuk orang lain. Oleh karena itu sumpit Tiongkok lebih panjang, dan sumpit Jepang lebih pendek.

Selain itu, sumpit Jepang ujungnya selalu lancip, sebalik-nya, sumpit Tiongkok ujung-nya selalu lebih besar jika dibandingkan sumpit Jepang. Perbedaan ini sangat sulit untuk dijelaskan, menurut saya, ini dikarenakan oleh letak geografis Jepang yang dikelilingi oleh lautan, makanan utamanya adalah ikan, sementara sebagian besar orang Tiongkok hidup di daratan luas, yang makanan utamanya adalah daging. Di dalam bahasa Jepang ada sebuah kosa kata Jepang yang disebut “Sakana” yang artinya adalah ikan, di dalam bahasa Tiongkok juga ada sebuah pribahasa yang menyebutkan “kolam arak dan rimba daging”. Dari kedua patah kata ini dapat kita lihat makanan utama dari kedua bangsa ini. Maka dari itu, sumpit yang digunakan untuk memakan ikan haruslah berujung lancip yang gunanya untuk memudahkan mengeluarkan tulang dan duri ikan, sedangkan makan daging sama sekali tidak ada masalah seperti ini.

Dari sepasang sumpit yang sedemikian kecil ini dapat kita lihat perbedaan antara Tiongkok dan Jepang, dapat menjelaskan perbedaan adat kebiasaan dan kebudayaan dari masyarakat masing – masing negara dari setiap detail yang ada. Jika kita hendak memahaminya, maka kita harus melakukan pengamatan yang lebih terperinci lagi. Saya merasa bahwa saya baru memahami sebagian kecilnya saja. 

Tuesday, May 28, 2013

Seni Mengajar Tiongkok Kuno

alt
Ajaran Konfusius. Potret oleh Wu Daozi, 685-758, Dinasti Tang. (Wikimedia Commons)

Pendidikan formal di Tiongkok kuno sebagian besar berdasarkan pada Konfusianisme. Ketika Konfucu memberikan ceramah di Xingtan (harfiah diterjemahkan sebagai Altar Apricot), ia mempunyai 3.000 murid.
Konfusianisme adalah dikatakan berdasarkan atas ceramah-ceramah Konfucu dan ini berfungsi sebagai asal dari pendekatan Konfucu dalam mengajar.

Dong Zhongshu (179 SM - 104 SM), seorang sarjana kekaisaran berpengaruh selama Dinasti Han, mempromosikan ajaran Konfucu secara luas melewati semua ideologi yang lain, sehingga ajaran Konfucu adalah ideologi dominan pada saat itu.

Selama Dinasti Sui (580-618) dan Tang (618-907), sistem ujian kekaisaran menekankan pada studi ajaran Konfucu, secara bertahap membawanya ke puncak, dan pengaruhnya terhadap pendidikan Tiongkok klasik berlangsung selama berabad-abad.

Sebagai inti dari metode pengajaran formalnya, ideologi Konfucu adalah sistem pemikiran-pemikiran mendalam yang mencakup aspek-aspek luas dari kehidupan sosial dan spiritual pada zaman kuno. Dalam “Pembelajaran Besar,” Konfucu menulis, “Orang-orang yang berkultivasi, keluarga mereka diatur. Keluarga mereka sedang diatur, negara mereka sudah pada tempatnya diatur, seluruh kerajaan dibuat tenang dan bahagia.”

Dididik dibawah filsafat seperti ini, orang-orang Tiongkok kuno menekankan pada kultivasi moralitas, memelihara keluhuran karakter dan menghormati langit dan bumi. Orang-orang menerima bahwa kehidupan ditakdirkan mengikuti jalurnya dan bahwa dengan mengkultivasi karakter moral, seseorang akhirnya akan mencapai kebahagiaan dan pikiran yang tenang serta pandangan ke depan yang sehat terhadap kehidupan duniawi, surgawi, dan nilai-nilai sosial.

Akar dari Ajaran Konfucu terdiri dari “kebajikan, kebenaran, ketekunan, kebijaksanaan, kesetiaan.” Banyak sifat-sifat baik, seperti kesetiaan, berbakti kepada orangtua, keberanian, kejujuran, keterbukaan, kebenaran, kerajinan, dll. adalah berasal darinya. Konfucu secara efektif mengatur semua lapisan masyarakat Tiongkok kuno, dan mendefinisikan standar dan nilai-nilai untuk menjadi orang baik.

Kebajikan dan kesopanan adalah nilai-nilai inti Konfusianisme. Dengan mempertahankan pemikiran kebajikan, orang-orang secara alami menjadi budiman. Tanpa kesopanan, tidak akan ada kesetiaan atau loyalitas. Tanpa kesetiaan, tidak ada yang dapat dibentuk.

Budaya tradisional Tiongkok berakar mendalam di dalam Ajaran Konfusius, Buddhisme, dan Taoisme. Konfusius fokus pada “memasuki dunia fana,” sedangkan Buddhisme dan Taoisme memfokuskan pada “melampaui duniawi fana.” Karena ia berinteraksi dengan masyarakat sehari-hari, ajaran Kunfucu memiliki dampak terbesar bagi masyarakat manusia, atau dunia fana.

Di Tiongkok kuno, pendekatan Konfucu dalam mengajar sangat efektif karena bukan hanya membentuk banyak individu sangat unggul, tapi juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas masyarakat dan mendorong kemajuan ekonomi dan budaya. Tanpa pendekatan ajaran Konfucu dalam pengajaran, sejaran Tiongkok tidak akan mempunyai Dinasti Tang yang luar biasa atau keelokan Dinasti Song atau Dinasti Ming dan Qing yang bersemangat. Artinya, kebudayaan tradisional Tiongkok tidak akan pernah ada jika bukan karena ajaran Konfucius.

Selama Dinasti Han (206 SM - 220) dan Dinasti Jin (265-420), sistem ujian kekaisaran masih belum terbentuk, namun ada sistem rekomendasi untuk mencalonkan orang-orang yang berpendidikan baik dari latar belakang yang baik untuk mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Orang-orang itu biasanya dari keluarga kaya dan berpengaruh. Namun, jika seseorang tidak berpendidikan, tidak peduli bagaimana status keluarganya, ia tidak akan bisa direkomendasikan.

Didirikan selama Dinasti Sui dan Tang, sistem ujian kekaisaran memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat umum untuk menduduki jabatan pemerintahan. Banyak orang berpendidikan dengan latar belakang sederhana memperoleh jabatan-jabatan peringkat tinggi di pemerintahan. Banyak kisah sukses orang-orang yang “memulai dari bawah” masih diceritakan sampai hari ini.

Meskipun orang-orang yang di atas merupakan minoritas, tapi mereka yang dididik di bawah ideologi yang sama itu memegang peranan penting dalam masyarakat. Secara keseluruhan, yang berpendidikan sangat dihormati dan merupakan pilar utama dalam masyarakat Tiongkok.

Beberapa dari mereka mulai membuka sekolah-sekolah; memberikan saran-saran strategis bagi para penguasa; mempraktekkan pengobatan; menjadi seniman. Di Tiongkok kuno, strata pendidikan masyarakat mempunyai dampak besar pada masyarakat melalui pemikiran dan perbuatan mereka. Nilai sistem mereka berperan penting dalam menjaga stabilitas.

Karakteristik unik lain dari metode pengajaran Tiongkok kuno adalah buku teks utama tidak berubah selama ribuan tahun. Tidak peduli bagaimana dinasti berubah, yang klasik tetaplah sama.

Dinasti dan masyarakat bisa berubah, tapi Tao tidak akan pernah berubah. Inilah sebabnya mengapa Konfusius berlangsung selama ribuan tahun. Tidak peduli seseorang lahir di dinasti mana, dia akan selalu menerima pendidikan yang sama yang dipandu oleh idealisme-idealisme ortodoks.

Teks-teks klasik adalah esensi dari kebudayaan tradisional Tiongkok. Orang-orang mulai mempelajarinya pada usia yang sangat muda. Banyak orang mampu membaca ayat-ayat dari “Pembelajaran Besar,” “Doktrin Tengah,” “Analek Konfucius” dan “Buku pujian.”

Namun, di China modern mayoritas sarjana dan siswa sekolah telah kehilangan hubungan mereka dengan buku-buku ini, yang mana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan mereka.

Di Tiongkok kuno, tujuan pendidikan adalah mengetahui keberadaan Tao, menjadi manusia. Pondasi ini menyediakan bimbingan yang benar bagi sepanjang kehidupan seseorang, dan seseorang akan menyadari Tao pada tingkat yang lebih mendalam melalui praktek Tao dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di dunia pendidikan sekarang ini hanyalah akumulasi dari ketrampilan-ketrampilan dan doktrin-doktrin teks.
alt
Di Tiongkok kuno, pendidikan dilakukan baik di sektor swasta dan pemerintah. Anak-anak dididik di rumah oleh pengajar privat (dikenal sebagai Sishu), sarjana-sarjana yang gagal dari ujian pemerintah pusat. Mendidik anak adalah sebuah jalur karir yang penting bagi para intelektual ini: ini menyediakan sarana penghidupan, memumuk bakat mereka, dan mempromosikan pendidikan di masyarakat.
Dalam masyarakat Tiongkok kuno, setiap orang menghormati para guru dan seorang guru sangat dianggap sebagai figur otoritas. Hirarki penghormatan dari: “Langit, Bumi, Kaisar, Orang Tua, Guru.”

Orang-orang menganggapnya sebagai motto bahwa "Sehari menjadi guru adalah seumur hidup menjadi seorang ayah.” Oleh karena itu para intelektual sangat berkeinginan untuk mengajar. Jika salah satu dari siswanya mampu mencapai peringkat tinggi di ujian pemerintah pusat dan menjadi pejabat tinggi, itu akan membawa kemuliaan besar bagi guru mereka, ia akan dihormati seumur hidupnya.

Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah disebut Shuyuan. Beberapa dari mereka adalah milik privat tetapi semua memiliki latar belakang resmi; mereka sering kali didukung secara financial oleh pemerintah. Tujuan Shuyuan adalah lebih meningkatkan pengajaran dan mengatur sebuah pelatihan bakat tingkat tinggi. Hanya mereka yang didedikasikan untuk mengikuti ujian pemerintah yang cukup baik untuk masuk Shuyuan.

Shuyuan hanya ada di tingkat provinsi atau di ibukota provinsi besar. Shuyuan menyediakan pendidikan terbaik dan memiliki standar akademis tinggi.

Para direktur Shuyuan semuanya adalah tokoh terkemuka di kalangan akademisi dan sarjana yang sangat dihormati. Pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendirikan sekolah-sekolah ini, yang memungkinkan pendidikan berkualitas tersedia bagi masyarakat umum. Sistem pendidikan Tiongkok kuno itu sangat komprehensif dan disesuaikan untuk menyediakan negara dan masyarakat dengan orang-orang berbakat di berbagai bidang.

Dalam masyarakat Tiongkok klasik, pendidikan diklasifikasikan ke dalam pendidikan klasik, pendidikan dasar, dan setengah klasik dan pendidikan setengah dasar. Pendidikan dasar mengajarkan pengetahuan dasar bagi pemula. Para guru hanya membaca keras-keras buku teks tanpa menjelaskan artinya. Sebagaimana guru membaca, para siswa menghafal setiap kata dan ungkapan. Para cendekiawan, pemula muda, dengan demikian akan menghafal ratusan ribu karakter.

Metode mengajar ini mungkin terlihat kikuk tapi ternyata efektif untuk alasan-alasan berikut: Pertama-tama, berfungsi untuk mengasah temperamen para siswa dan memperbaiki sikap mereka dalam belajar. Kedua, melalui pelatihan intensif tersebut, kata-kata dengan makna mendalam akan terukir di dalam pikiran para siswa dan mereka dapat mengingat dan menggunakan kata-kata ini sebagai dasar bagi tingkah laku mereka selama hidupnya. Bagian dari pelajaran ini meletakkan dasar-dasar yang solid bagi pendidikan di masa depan mereka.

Ada alasan kenapa para guru tidak menjelaskan arti dari teks-teks itu. Kata-kata dari orang-orang suci mempunyai makna dan filosofi yang mendalam dan tidak dapat dijelaskan hanya dalam beberapa kata saja. Para siswa mungkin tidak bisa memahami dengan penjelasan yang paling menyeluruh pun. Mungkan akan diperlukan seumur hidup sang siswa untuk mencerna pengetahuan ini, memahaminya, dan mempraktekkannya sebelum dia bisa mencapai realisasi secara menyeluruh. Subjektif atau penjelasan tidak seharusnya dengan mudah bisa menyesatkan para siswa. Oleh karena itu buku-buku klasik Konfucu, sudah menjadi tradisi bahwa guru tidak menjelaskan kepada mereka pada tingkat pendidikan dasar.

Pendidikan klasik berarti para guru menjelaskan kata atau ungkapan sebagaimana ia mengkuliahi para siswanya. Ada diskusi terbuka antara guru dan siswa. Pada tingkat ini, siswa sudah memiliki sejumlah pengetahuan dan dasar-dasar akademis yang kokoh dan mampu bertukar pendapat dan berdiskusi dengan para guru. Para siswa bisa mengajukan pertanyaan dan para guru akan menjawabnya.
Pendidikan setengah dasar dan setengah klasik ada di suatu tempat di antara keduanya. Guru akan menjelaskan isi ceramahnya sampai batas tertentu, Tidak peduli jenis penelitian yang mana, jenis-jenis kuliah yang diberikan kepada para siswa sangat berhubungan dengan tingkat akademik guru.
Pendidikan Tiongkok kuno menaruh banyak perhatian pada apakah para siswa benar-benar tercerahkan dengan wawasan dan pengalaman. Hanya ketika siswa benar-benar bisa menguasai pengetahuan yang mereka anggap bermutu.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa pendidikan Tiongkok kuno tidak lebih dari menghafal mati dan karenanya membosankan. Itu tidak sepenuhnya betul. Pembelajaran yang sebenarnya adalah sebuah proses yang memiliki kesulitan. Itu adalah alami ketika seseorang bekerja keras, ia akan dihargai. Sistem pendidikan Tiongkok kuno adalah khususnya tentang bergerak maju secara bertahap. Penampilan akademik seorang siswa adalah berhubungan dengan pembinaan dirinya sendiri. Kemajuan seorang murid dalam bidang akademik adalah pencerminan dari kemajuan dirinya dalam pembinaan diri.
Pendidikan kuno tidaklah membosankan, melainkan bermanfaat dan menyenangkan. Selain mempelajari buku-buku klasik Konfucu, siswa menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam mempelajari puisi, menyanyi, kaligrafi, musik, catur, menulis, dan melukis.

Ada juga berbagai macam pelatihan khusus dalam pendidikan kuno seperti pencerahan ritme, mengupas kata-kata/ungkapan, menulis puisi, menulis artikel, memainkan instrumen musik, dan melukis. Pelatihan ini dilakukan setiap hari dan pendidikan dicampur dengan hiburan. Ini mendorong kecerdasan para siswa, melatih proses pemikiran mereka dan meningkatkan tingkat ketrampilan menulis mereka. Hal ini juga mendorong kreativitas para siswa, hasrat untuk menciptakan, dan melatih dan membina pikiran mereka dengan pemikiran-pemikiran mulia. 

Asal Usul Perahu Naga di Festival Bacang

Festival Peh Cun dan Perahu NagaBulan Juni, akan ada Festival Peh Cun (端午节), juga dikenal sebagai Festival Perahu Naga, adalah hari libur dan adat istiadat tradisional yang terkait dengan orang-orang Tiongkok dan Asia Timur lainnya dan masyarakat Asia Tenggara. Festival ini terjadi pada hari 5 bulan 5 kalender lunar. (kalender masehI: bulan Juni). Fokus dari perayaan termasuk makan bacang (zongzi) dan balap perahu naga.
Hal ini diyakini berasal di Tiongkok kuno. Tradisi ini berasal dari sejumlah tradisi rakyat dan legenda yang terjadi pada  278 SM pada Qu Yuan (340 SM - 278 SM), seorang penyair dan negarawan dari kerajaan Chu selama periode peperangan.
Ketika raja Chu memutuskan untuk bersekutu dengan negara Qin yang  semakin kuat, penyair Qu diusir dari pengadilan karena menentang aliansi tersebut dan dicap pengkhianat. Padahal penyair Qu tahu akal licik dari negara Qin. Selama pengasingannya, Qu Yuan menulis banyak puisi yang karenanya ia selalu dikenang. Dua puluh delapan tahun kemudian, Qin menaklukkan ibukota Chu. Dalam putus asa, Qu Yuan menenggelamkan diri di Sungai Miluo pada hari kelima bulan kelima penganggalan bulan.
Dikatakan bahwa rakyat yang mengaguminya melemparkan gumpalan kue beras disebut Zongzi ke sungai untuk memberi makan ikan, sehingga mereka tidak akan memakan tubuh Qu Yuan. Mereka juga mengeluarkan perahu-perahu mereka, berlayar mengitari sungai untuk menakut-nakuti ikan dan juga mencari jenazah penyair Qu. Inilah yang disebut-sebut sebagai asal-usul balapan perahu naga.
Teori lain, diajukan oleh Wen Yiduo, adalah bahwa Festival Peh Cun berasal dari pemujaan naga. Makanan yang dibuat dipersembahkan untuk raja naga, dan balapan perahu naga mencerminkan penghormatan terhadap naga dan energi “Yang” aktif yang terkait dengannya. Ini menggabungkan dengan tradisi mengunjungi teman dan keluarga di perahu.
Zongzi (Cina: 粽子) adalah makanan tradisional Cina, terbuat dari beras ketan diisi dengan isi yang berbeda dan dibungkus dengan daun bambu atau daun  alang-alang. Mereka dikukus atau direbus. Disini kita biasa menyebutnya bacang.

Asal-usul Festival Perahu Naga

altQu Yuan (sekitar 340 SM - 278 SM) adalah seorang diplomat dan penasihat raja di negara Chu (sekarang adalah China bagian Tengah dan Selatan) selama periode perang antar kerajaan. Dia dikenal karena kebijaksanaan, keberanian, kepandain berbicara, dan bakat sastra. Terutama sikap Qu Yuan yang sangat patriotik dan terus-menerus memikirkan tentang kesejahteraan negaranya.
Jin Shang, seorang pejabat di negara Chu, cemburu pada bakat Qu Yuan dan sering menyebar kebohongan tentang Qu Yuan kepada raja: "Yang Mulia, Qu Yuan sangat sombong. Karena dia sering membahas urusan negara dengan Anda, dia berpikir dirinya sangat diperlukan. Dia mengatakan kepada menteri lain bahwa tanpa dirinya, kerajaan akan runtuh. Dia hampir tidak punya rasa hormat terhadap Anda Yang Mulia! "
Raja tidak tahu siapa yang harus dia percaya dan dengan amarah Raja mengirim Qu Yuan hidup di pengasingan.

Selama Periode Perang antar Kerajaan, Kerajaan Chu dan Qin adalah saingan terkuat dari tujuh kerajaan di Tiongkok saat itu.

Raja Qin selalu ingin menaklukkan kerajaan Chu, sehingga dia membuat sebuah rencana, menawarkan wanita cantik kepada Raja Chu sebagai selir. Kedua raja sepakat untuk bertemu di Gerbang Wu (di perbatasan selatan kerajaan Qin, yang saat ini adalah Provinsi Shaanxi).

Meskipun berada di pengasingan, Qu Yuan masih terus memikirkan urusan negara. Ketika ia mendengar tentang pertemuan itu, ia bergegas kembali ke ibukota dan mendesak raja untuk tidak pergi: "Yang Mulia, saya mohon Anda untuk tidak pergi! Raja Qin sangat licik seperti ular berbisa. Saya yakin ini adalah perangkap yang telah dipersiapkan!" Tapi Raja Chu mengabaikan permohonan Qu Yuan.
alt
Seperti sudah ditakdirkan, Raja Chu dibunuh oleh raja Qin. Ketika Qu Yuan mendengar kabar itu, ia membenamkan wajahnya dan menangis, "Yang Mulia, mengapa kau tidak mengindahkan kata-kata saya?"

Seorang raja baru kemudian dinobatkan di kerajaan Chu. Tetapi sekali lagi, Jin Shang mulai menyebarkan kebohongan tentang Qu Yuan. Dan Qu Yuan kembali dibuang dalam pengasingan.

Selama di pengasingan, Qu Yuan menulis banyak puisi untuk menggambarkan kesedihannya dalam puisi patriotik. Meskipun demikian, kesedihannya itu membuat badanya semakin kurus dengan berlalunya hari.

Suatu hari, seorang nelayan tua yang sedang santai mendayung perahu kecil di Sungai Miluo melihat Qu Yuan berdiri di tepi sungai. Ia berhenti mendayung dan bertanya kepada Qu Yuan ingin tahu: "Bukankah Anda menteri dari kerajaan Chu? Mengapa Anda berada di sini dan hanya seorang diri? "

Qu Yuan memandang nelayan itu dengan sedih dan mendesah: "Anda tidak mengerti. Saya memiliki sebuah rumah namun saya tidak bisa kembali ke rumah itu. Saya sepenuh hati ingin melayani negara saya, tetapi gagal mendapatkan kepercayaan Raja. Saya telah dibuang di sini."

Nelayan itu menepuk bahu Qu Yuan dan berkata: "Mengapa begitu serius? Lihatlah, ada banyak menteri yang bahagia seperti orang kebanyakan yang bahagia, tidak peduli betapa kacaunya negara ini. Mengapa Anda tidak belajar dari mereka? Mengapa Anda terlalu khawatir? "

Qu Yuan menjawab: "Sebagai menteri, saya harus memenuhi tugas saya. Bagaimana mungkin saya hanya peduli pada kesenangan diri sendiri dan menyia-nyiakan hidup saya dalam kemerosotan? Saya seharusnya melompat ke dalam sungai untuk memberi makan ikan."

"Mungkin Anda harus melakukan apa yang saya lakukan," kata nelayan, "menarik diri menuju ke alam, mengayuh perahu saya, menangkap ikan, bersenang dengan pemandangan alam yang megah, bersenandung beberapa lagu yang bagus ... dan tidak khawatir tentang apa pun. Bukankah ini bagus? Mengapa Anda membuat diri Anda begitu sedih? "
alt
Qu Yuan berkata sambil tersenyum pahit: "Tuan,  Anda memang sangat diberkati. Tapi bagi saya, ketika saya melihat rakyat menderita dan bangsa dalam kesulitan, saya menjadi sangat tidak tenang. Bagaimana mungkin saya memanjakan diri dalam kegiatan seperti itu? "

Nelayan itu melihat bahwa ia tidak bisa meyakinkan Qu Yuan, jadi dia menggelengkan kepala, melambaikan tangan, dan mendayung pergi.

Sebuah aliran udara dingin tiba-tiba menyembur keluar dari langit biru, dan seekor angsa terbang bergegas di langit suram. Qu Yuan melihat bahwa dia tidak bisa melayani negaranya atau menemukan orang-orang seperti dalam pikirannya. Dia merasa sedih. Apa gunanya, ia bertanya.

Setelah itu, ia mengambil sebuah batu besar dan melompat ke Sungai Miluo sehingga membuat sungai menjadi beriak. Lapisan demi lapisan riak air sungai tampaknya tidak pernah berakhir memercik hingga ke seberang sungai ... secara bertahap berubah menjadi riak tak berujung. Akhirnya air sungai kembali tenang, namun Qu Yuan tidak. Hari itu adalah tanggal 5 bulan 5 kalender lunar.

Penduduk desa setempat mendengar tentang tragedi tersebut dan mendayung perahu mereka mencoba menyelamatkan Qu Yuan, tapi mereka terlambat. Dengan drum dan gong mereka mencoba mencegah ikan dan udang di sungai menggigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga membuat beras dalam wadah bambu untuk memikat ikan menjauh dari tubuh Qu Yuan.

Sejak itu, orang-orang di seluruh Asia telah merayakan Duan Wu Festival pada hari ke-5, bulan ke-5 kalender lunar dalam rangka mengenang Qu Yuan dan semangat patriotic-nya. Festival ini saat ini telah berkembang menjadi Festival Perahu Naga China dengan lomba perahu, musik drum, dan makan kue beras ketan yang dibungkus daun bambu yang disebut zongzi.

Leizu, Penemu Sutera

LeizuLeizu adalah seorang ratu negeri Tiongkok yang legendaris. Menurut cerita tradisional, ia menemukan sutra dan menciptakan alat tenun sutra pertama di abad 28 SM.
Leizu menemukan ulat sutra saat berjalan di dekat pohon murbei raja. Namun, ada berbagai cerita yang berbeda tentang bagaimana dia menemukan bahwa ulat sutra dapat menghasilkan benang sutra.

Salah satu cerita mengisahkan bahwa Leizu menyentuh seekor ulat sutra dengan jarinya. Sentuhannya menyebabkan sehelai sutra keluar. Sutra tersebut keluar terus-menerus dan dia kemudian melilitkannya di jarinya. Ketika sutra habis, ia melihat kepompong kecil, dan menyadari bahwa kepompong ini adalah sumber dari sutera yang ditemukannya.

Cerita lain mengatakan bahwa ia menemukan kepompong yang berputar dan ulat sutra yang sedang memakan daun murbei. Dia mengumpulkan beberapa kepompong, dan kemudian duduk untuk minum teh. Ketika menikmati secangkir teh, ia menjatuhkan kepompong ke dalam air panas. Sebuah benang halus mulai lepas dari kepompong. Leizu menemukan bahwa ia dapat mengurai benang lembut dan cantik ini dengan jarinya.
Selanjutnya, dia meminta pada kaisar untuk memberinya serumpun pohon murbei, di mana ia bisa memelihara ulat yang menghasilkan kepompong ini. Dia berjasa menciptakan gulungan sutra, yang  menggabungkan helaian benang sutra halus menjadi benang yang lebih tebal. Dengan gulungan sutra ini, dihasilkan benang yang cukup kuat untuk ditenun. Dia juga berjasa dalam penciptaan alat tenun sutra pertama. Tidak diketahui seberapa jauh kebenaran cerita ini, tetapi sejarawan tahu bahwa sutra pertama kali dibuat di China. Leizu membagikan pengetahuannya kepada yang lain dan hal ini kemudian menjadi pengetahuan yang umum. 

Seorang Pria akan Memenuhi Janji Pernikahannya

Ditulis oleh Yi Ming   

Till we grow old and grey...
Till we grow old and grey...
Seorang pria sempurna dapat menahan segala godaan, seperti ketenaran, kekayaan dan wanita idaman lain dan menjaga dirinya tetap lurus. Berikut ini adalah dua cerita sejarah bagaimana kepribadian mereka menunjukkan karakter-karakter mereka yang berharga.
Kaisar pendiri Dinasti Han Timur Liu Xiu ingin mencari seorang pria yang pantas untuk adik perempuannya yang cantik, namun  yang menjanda, Puteri Hu Yang. Beliau bertanya kepada Puteri Hu Yang siapa kira kira yang dapat menjadi kandidat suaminya. “Song Hong memiliki sifat baik dan penampilan yang unggul.” Liu Xiu tahu bahwa ini akan menjadi hal yang sulit karena Song Hong telah menikah dan juga adalah seorang yang berbudi baik. Tetapi Kaisar telah berjanji kepada saudara perempuannya untuk membantu, sehingga beliau harus mencobanya.
Kaisar kemudian memanggil Song Hong ke istana dan meminta Puteri Hu Yang duduk di belakang layar – untuk mendengar pembicaraannya dengan Song.
Liu Xiu bertanya kepada Song secara lembut dan tenang,”Saya mendengar bahwa ketika seseorang telah menjadi kaya, orang tersebut dapat memiliki teman yang banyak dan juga dapat mengganti istri yang lama dengan istri yang baru. Apakah ini benar bagi rakyat biasa?”

Song Hong tidak ragu-ragu untuk menjawab,”Yang Mulia, saya mendengar bahwa seseorang tidak akan membuang teman temannya ketika menghadapi kemiskinan dan juga tidak akan mengganti istri seseorang ketika sedang kelaparan.”
Setelah mendengar jawaban Song Hong, Kaisar Liu Xiu tahu apa yang dipikirkan oleh Song Hong dan kemudian berbisik kepada adik perempuannya,”Saya berpikir tidak akan ada pernikahan antara kamu dan Song Hong.”
Cerita yang sama pada era yang berbeda:
Perdana Menteri Qi Yan Zi sedang mengadakan pesta di rumahnya untuk Raja Qi, Jing Gong.

Qi Jing melihat isteri Yan Zi dan bertanya,”Apakah dia isterimu?”
Yan Zi menjawab,”Ya.”
till we grow old and grey...
till we grow old and grey..

Qi Jing Gong kemudian berkata,”Isterimu jelek dan tua. Marilah. Saya memiliki anak perempuan yang manis. Saya akan menikahkannya denganmu. Bagaimana menurutmu?”
Yan Zi berdiri dari tempat duduknya dan menolaknya secara hormat,”Istri saya telah mendampingi saya selama berpuluh-puluh tahun. Dia mungkin telah tua dan jelek, tetapi sebelumnya dia sangat manis dan juga muda. Dia mempercayai saya dengan hidupnya, dan saya telah berjanji kepadanya untuk menjaganya sampai kita dipisahkan oleh maut. Saya menghargai budi baik Yang Mulia, tetapi saya tidak dapat menerimanya. Jika saya menerimanya, saya telah menghianati janji saya kepada isteri saya.”
Isteri seorang pria adalah pasangan hidup yang bersama-sama menghadapi tahun tahun yang penuh penderitaan dan kesederhanaan, sehingga seorang pria tidak akan menggantikannya untuk mendapatkan isteri yang lebih muda atau lebih cantik. Untuk bertanggung jawab kepada pasangan hidupnya, tidak mengabaikannya, baik dalam masa susah atau senang, adalah sebuah prinsip pernikahan yang sangat mulia.

Keberanian Yang Sejati

KeberanianSaya membaca sebuah cerita, seorang pengusaha sedang merekrut karyawan, ada 3 kandidat, bos berkata kepada calon pertama, dikoridor terdapat jendela kaca, coba engkau hancurkan kaca tersebut dengan kepalan tanganmu. Calon pertama melakukan perintah itu, sungguh beruntung kaca tersebut bukan kaca sungguhan, jika tidak tangannya akan terluka parah.
Bos berkata kepada calon kedua, disini ada seember air kotor, siramkan air tersebut kekepala seorang pelayan kebersihan, sekarang dia sedang beristirahat dikamar kecil diujung koridor, engkau jangan berkata apapun, setelah masuk ke kamarnya siramkan diatas kepalanya. Calon kedua ini mengangkat ember air kotor tersebut, berjalan ke kamar kecil  mendorong pintu masuk ia melihat memang ada pelayan kebersihan sedang beristirahat, lalu tanpa berkata apapun menyiramkan air tersebut ke kepala pelayan kebersihan, lalu langsung lari dari tempat itu, pergi melapor kepada bosnya, bos mengatakan bahwa orang yang sedang beristirahat dikamar kecil adalah patung lilin.
Bos berkata kepada calon ketiga, diruang aula ada seorang lelaki gendut, pergilah tinjulah wajahnya dengan keras 2 kali. Calon ketiga ini menjawab maaf, saya tidak mempunyai alasan meninjunya, walaupun mempunyai alasan saya tidak akan menggunakan tinju, karena alasan ini mungkin anda tidak akan memperkerjakan saya, tetapi saya tidak bisa menjalankan perintah yang tidak masuk akal ini.
Pada saat ini bos mengumumkan dia akan mempekerjakan calon ketiga, atas dasar karena dia adalah seorang yang pemberani juga seorang yang rasional. Dia mempunyai keberanian menolak melakukan perintah bosnya yang tidak masuk akal, sudah pasti dia juga akan menolak perintah orang lain yang tidak masuk akal.
Jenderal de Gaulle juga pernah bertemu dengan orang pemberani seperti ini. Ditahun 1965, terjadi keributan di Paris Perancis, mahasiswa dan rakyat turun ke jalan demonstrasi menuntut pengunduran diri presiden Charles de Gaulle, akhirnya Charles de Gaulle terpaksa mengungsi ke kota Baden di Jerman, dia lalu pergi ke markas meliter Jerman meminta bantuan kepada komandan pasukan Jerman membantunya meredamkan para pemberontak yang terjadi di Paris. Tetapi dua kali dia ditolak oleh komandan pasukan Jerman tersebut, serta membujuk de Gaulle menyerah saja. Akhirnya de Gaulle sangat berterima kasih kepada komandan pasukan Jerman ini, memuji komandan tersebut adalah seorang pemberani yang berani menolak melaksanakan perintahnya.  Ia juga menulis surat kepada istri komandan tersebut mengatakan bahwa atas bantuan Tuhan ketika dia sedang tidak berdaya datang ke Baden, dan atas bantuan Tuhan juga dia bisa bertemu dengan komandan ini, jika tidak, ia mungkin akan menjadi orang yang dikutuk dalam sejarah.
Hanya satu definisi keberanian, tetapi kinerja berani ini mungkin bisa bervariasi. Diantara 3 kandidat, 2 yang terdahulu dengan tegas melaksanakan perintah bosnya, beranggapan itu adalah hal yang wajar, walau bagaimanapun itu adalah perintah dari bos; tetapi kandidat yang terakhir dengan berani menolak melaksanakan perintah bosnya yang konyol, layak dipuji. Sedangkan komandan pasukan Jerman berani menolak perintah dari presiden de Gaulle yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Itu sangat terpuji. Jadi berani atau tidak berani, bukan hanya tindakan ekspresi, didalamnya termasuk moral dan rasional, sedangkan keberanian yang irasional adalah keberanian yang tidak bermoral,  seperti seorang picik yang tidak berotak.
Didunia ini, keberanian adalah orang yang berani menjalankan perintah lebih banyak daripada orang yang berani menolak perintah. Hal ini karena mereka yang berkuasa umumnya mencoba mempromosikan, mengembangkan, memproduksi implementasi mutlak berani menjalankan perintah ini, Sedangkan yang berani menolak perintah yang tidak masuk akal mereka akan menjadi sumberkebencian,walaupun hal-hal tersebut jelas-jelas salah, hal-hal tidak masuk akal, anti-moral, melanggar hukum dan disiplin, tetapi karena yang memerintahkan adalah mereka yang berkuasa, dan mempunyai kekuasaan, maka orang “berani”melakukannya. Dengan “berani” melakukannya.
“Berani” sebenarnya sebuah perkataan memuji, didalamnya mencakup karakter yang baik. Bahkan orang tua ketika mendidik anaknya selalu mengatakan menjadi seorang anak baik yang pemberani. Tetapi juga ada keberanian yang non-premis. Tidak bisa membedakan yang benar dan salah, tidak rasional mengeksekusi perintah adalah keberanian yang mengerikan, dan merupakan sebuah keberanian yang tolol. Menegakkan kebenaran, berani berjuang, memberontak terhadap hal yang irasional adalah keberanian yang sejati dan terpuji. 

Tabur Tuai



Renungan :


Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.


Jadi……
Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

Korek api mempunyai kepala,
tetapi tidak mempunyai otak,
oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.


Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil.


Ketika burung hidup, ia makan semut.
Ketika burung mati, semut makan burung.


Waktu terus berputar sepanjang jaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut.


Jangan merendahkan siapapun dalam hidup , bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.


Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.


Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita,
Waktu kita tak berdaya, barulah kita sadar selama ini siapa kualitas orang yg hanya memperalat & menggunakan kita.


Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi harta.


Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.


Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.


Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama² membuat HIDUP LEBIH BERHARGA


Saling menghargai,
Saling membantu dan memberi,
Saling mendukung,
Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat,
Jauhkan niat tdk baik seseorang melakukan suatu hal yang menyimpang untuk kepentingan pribadi kita.


Believe in “Cause and Effect”


Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai..

sumber : http://pengharapan.com/tabur-tuai.html#more-1474

Sunday, May 19, 2013

Belajar Mencintai dari Cicak

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.
Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akan.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya....AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan..... Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!




Kisah ini berasal dari Jepang.

Aku Berubah Hanya Karena Dia

Dalam harian bahasa Mandarin "The Liberty Times" muncul sebuah tulisan kecil namun menarik perhatianku. Judul tulisannya berbunyi: "Aku berubah hanya karena dia". Penulisnya adalah seorang wanita yang mengisahkan bagaimana pertemuannya dengan seorang cowok telah mengubah cara hidupnya di masa silam, dan lebih lagi telah membantunya untuk sungguh menjadi seorang feminine. 

"Sejak kecil aku selalu senang mengenakan pakaian cowok, mengenakan celana jeans, rambut dipotong pendek. Beberapa kali saya membangun persahabatan dengan lawan jenis. Namun lima pacarku pada akhirnya selalu saja menolak aku dan cerai karena aku kurang menunjukan sikap feminine. Namun sejak aku bertemu dengan 'dia' aku kini sungguh telah berubah. Sejak kecil aku tak pernah menyukai warna merah muda. Namun demi 'dia' saya mulai menyukai segala yang berwarna merah muda, mulai dari warna hand phone, pakaian, bahkan tali pengikat rambut. Sejak kecil aku senang memakai sepatu sport. Namun sejak bertemu dengannya saya sudah menjelajahi semua toko yang menjual sepatu yang bertumit tinggi. Sering kakiku lecet karena harus mengenakan sepatu kulit, tetapi saya menahan semua rasa sakit itu. Saya adalah seorang yang takut kedinginan, dan lebih senang memakai celana jeans panjang. Namun hanya karena 'dia' walaupun udara dingin, saya mulai memakai rok walau kadang aku harus diserang flu. Berbagai jenis rok, mulai dari jenis sutra hingga rok jeans mulai aku beli. Ini terjadi sejak saya bertemu dengannya. Dulu saya tak senang menggunakan parfum. Namun kini aku mulai belajar bagaimana harus memilih jenis minyak wangi, aku mulai belajar bagaimana harus merias diri. Hanya karena 'dia' aku kini telah berubah. Aku kini telah berubah menjadi lebih baik dari dulu, aku kini berubah menjadi seorang yang sungguh-sungguh perempuan, hanya karena 'dia'." 

Dalam bacaan yang diambil dari Kisah Para Rasul 20:17-27, kita mendengar bagaimana Paulus berkisah tentang nasib yang pernah dan akan menimpa dirinya. Ia menasihati jemaat yang datang bertemunya di Miletus untuk bertekun mewartakan pertobatan kepada orang Yahudi dan Yunani sebagaimana telah diperbuatnya sendiri. Dan kini oleh desakan Roh, Paulus akan beralih menuju Yerusalem walaupun ia sendiri tahu apa yang akan terjadi atas dirinya di Yerusalem. Roh Kudus telah menyatakan kepada dirinya bahwa penjara dan sengsara telah menantikan kedatangannya di Yerusalem. Namun demikian Paulus tidak merasa takut. Paulus tidak melarikan diri, ia tidak mengelak. Ia dengan berani memasuki kota abadi Yerusalem, dengan berani menghadapi dan menerima tantangan tersebut. 

Kita mengenal siapakah Paulus ini sebelumnya. Dahulu ketika Paulus masih menyandang nama seorang 'Saulus', ia adalah seorang musuh orang-orang Kristen. Ia adalah musuh para pengikut Kristus. Ia dengan berbagai cara telah berusaha agar kelompok kristen dibekukan, agar mereka tidak membuka mulut dan bersaksi tentang Yesus yang bangkit. Ia telah memberikan peritah untuk merajam Stefanus dengan batu hingga mati. Itu adalah kisah masa silam tentang Paulus. Namun saat ini ia telah berubah. Dan apa yang telah membantu perubahan mendasar dalam diri Paulus? Sama seperti tulisan kecil di atas, Paulus telah menjawab bahwa 'DIA' (Yesus yang bangkit) telah mengubah dirinya. Hanya karena 'DIA' Paulus kini berubah. Hanya karena 'DIA' Paulus kini bersedia menerima hukuman penjara, bahkan rela menerima ajalnya di ujung sebilah pedang. Hanya karena 'DIA'. 

Apakah akupun telah ikut berubah? Apakah anda juga telah ikut berubah seperti Paulus? Apakah 'DIA' telah menjadi kekuatan yang bisa meluluhkan kekerasan bathin kita dan bangkit berdiri dan secara tegas bersaksi tentang 'DIA' yang bangkit? Semoga kitapun boleh berkata; Hanya karena 'DIA' saya kini telah berubah.

1001 Burung Kertas


Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.

Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.

Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “ Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.

Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.

Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.

Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo.

Reo membaca surat itu. “Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Reo................................

July “ Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan.July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita

Diceritakan ulang oleh


Thomas KMK St Petrus

sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=786&next=0

Aku dan Sahabatku

Ini adalah kisahku tentang sahabatku.... 

Aku punya seorang sahabat yang selalu menemaniku, kemanapun aku pergi. 
DIA sangat baik padaku, DIA mengajariku dalam banyak hal. 
DIA menghiburku saat aku sedih, dan megusap air mataku, kala ku menangis. 
DIA menuntunku saat ku lemah, dan menggendongku saat ku tak mampu lagi tuk melangkah. 
DIA ada, dan selalu ada untukku, bahkan saat yang lain meninggalkan aku. 

Tapi sayangnya, aku tidak pernah berterimakasih pada-NYA. 
Aku selalu menyakiti hati-NYA. Jika terjadi sesuatu dengan diriku, aku selalu menyalahkan-NYA. 
Aku sering berteriak pada-NYA, walau aku tahu DIA ada di dekatku. 
Berkali-kali aku marah pada-NYA dan tidak mau bicara pada-NYA. 

Kadang aku menyesal dengan semua sikapku. 
Kadang aku menangis dan berjanji, tidak akan mengulanginya lagi. 
Tapi anehnya, aku selalu melakukannya lagi...lagi dan lagi... 

Ya,, aku memang sahabat yang tidak tahu berterimakasih. 
Tapi DIA, sahabatku itu tetap memilih aku menjadi sahabat-NYA. 
DIA menolak untuk meninggalkan aku. 
Aku heran dan aku bertanya pada-NYA. 
Apa alasan-NYA menolak meninggalkan aku ??? 

Inilah yang DIA katakan padaku : 
'' oleh karena engkau berharga dimata-KU dan mulia , dan AKU ini mengasihi engkau..''(YES 43:4a) 
'' Lihat AKU telah melukiskan engkau di telapak tangan-KU..'' (YES 49:16a) 

Allah tidak akan menyia-siakan umat yang patuh kepadaNya


Pengalaman iman ini benar-benar luar biasa aku alami. Aku pernah membuat keputusan sendiri dan berjanji dalam diri sendiri: " bahwa tidak akan pernah lagi memberikan pinjaman uang kepada siapapun dengan alasan apapun" hal ini timbul karena sudah sering mengalami kebohongan dari si peminjam, baik dari keluarga sendiri maupun teman/sahabat, karena seringkali terjadi meminjamkan dan tidak kembali/hangus. tekad dan janji dalam hati untuk tidak memberikan pinjaman kepada siapapun dengan alasan apapun cukup lama aku terapkan dalam hidupku.

namun pada suatu hari ditahun 2008 aku ikut kegiatan KEP (kursus evangelisasi pribadi) yang diselenggaran oleh paroki kami. Pada saat mengikuti ujian akhir KEP sekaligus diadakan rekoleksi. didalam acara tsb ada kegiatan pencurahan roh kudus, namun sebelumnya semua peserta harus mngakui dosa terlebih dahulu di hadapan imam. Dalam pengakuan dosa inilah aku mencoba minta ampun kepada Tuhan Yesus yang salah satunya adalah kekerasan hatiku yang enggan memberi bantuan kepada orang lain dalam bentuk meminjam uang kepada yang memang membutuhkan.
singkat cerita; setelah 1 minggu berlalu, tengah malam sekitar jam 23.00 wib HP ku berbunyi, sebelum ku angkat dalam hati bertanya jangan2 ada masalah apa ya malam2 begini ada yang telepon?? ternyata dugaanku benar, keluarga dari kota lain meminta bantuan pinjam uang rp 15 juta, katanya dia menabrak orang waktu nyetir mobil dan pihak keluarga yang ditabrak minta ganti rugi rp 25 jt dan keluargaku ada uang cuma rp 10 jt. disitulah saat yang sangat sulit bagi aku, dan dalam hatiku bergejolak antara mengatakan sanggup atau mengatakan tidak punya uang, padahal aku bisa mengupayakan uang sebesar itu.
karena pengalaman buruk meminjamkan uang tanpa kembali tetapi aku sudah mengaku dosa untuk berubah sikap. Betul2 dalam kebimbangan. Namun suara Tuhan mengalahkan suara iblis, akhirnya aku jawab " besok aku upayakan tranfer, smskan no.rekeningmu" jawab aku di hp.

Akhirnya uang yang diminta aku transferkan namun aku minta dia bisa kembalikan secara cicilan aja biar tidak berat, dan disanggupi oleh dia.
ternyata pengalaman buruk terjadi lagi padaku, setelah pinjam uang dia hanya 1 kali mengangsur sbs rp 1 jt dan sisanya tidak ada bekas dan sampai saat inipun tidak pernah menghubungi aku lagi dan tidak tahu kabar berita keberadaannya dimana, dan setelah aku berupaya cari tahu, ternyata dia memang bohong, karena dia tidak bisa menyetir mobil, bagaimana bisa menabrak orang. itu hanya alasan saja supaya bisa mendapatkan uang, ternyata dia kalah main saham. tapi dalam hatiku aku sudah mengiklaskan kehilangan uang tsb dan tidak akan mengingatnya lagi.

ternyata Allah sungguh Maha mengetahui, 3 bulan sejak kejadian tanpa diduga dan disangka saya diminta menjualkan tanah milik teman dan ternyata ada pembeli yang mau membeli tanah tsb, dan akhirnya dari hasil transaksi jual-beli tanah tsb saya mendapatkan komisi yang besarnya 1,5 X dari jumlah uang saya yang hilang.
disini saya mau sharingkan : bahwa kita kalau benar2 melaksanakan perintah/teladanNya, pasti dan yakin tidak akan sia2. mengutik dari :
"Amsal 3 : 1-2" : Hai anakku janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihat perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. ......... amin


paulus sinkiang



sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=1560&next=0


Aevo, si Pendaki Gunung

Bercerita tentang seorang pendaki gunung yang bernama Aevo, yang memaknai hidup dari perjuangan yang dia lakukan. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menaklukkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan mana yang terindah. Semakinn tinggi gunung yang dia taklukkan, semakin indah pemandangan yang ia dapatkan. Hingga pada suatu kesempatan,Aevo memutuskan untuk mendaki sebuah gunung yang amat tinggi. Aevo merasa itulah gunung tertinggi yang pernah ia hadapi. Dalam hati Aevo ada ketakutan,hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasa pula, Aevo berusaha menenangkan hatinya. 

Setelah merasa cukup tenang,Aevo mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Mendaki gunung yang akan menghadiahi dia banyak tantangan dengan bekal seadanya. 

Tidak terasa, Aevo sudah mendaki seperempat dari gunung tersebut. Aevo melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, "Ah, masih belum jauh." Sambil terus melangkahkan kakinya. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat Aevo panik, dan ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya, menyadarkan ular tersebut akan kehadiran Aevo di sekitarnya. Ular tersebut memandang Aevo yang sedang berusaha tenang, dan ternyata ketenangan Aevo akhirnya membuat ular tersebut pergi. 

Aevo melanjutkan perjalannya dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuat Aevo kehilangan tenaga. Kini Aevo sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat Aevo sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui, dan yang masih akan dia jalani. Ditambah dengan bekal yang sudah sangat menipis. Aevo takut akan mati di tengah jalan. Sesaat kembali Aevo duduk dan mengumpulkan semangat, kembali pada motivasinya. Setelah yakin, Aevo kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram. 

Sampailah Aevo pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana. Yang mungkin tewas saat mendaki dunung tersebut. Segera Aevo membuka bekal dan terkejut. Tinggal sepotong roti di sana. Pikiran Aevo terguncang, takut akan kematian yang ada dalam benaknya. Namun saat memandang ke bawah, Aevo sadar, sudah terlalu jauh. Saat memandang sekelilingnya, Aevo mulai melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun masih buram. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera Aevo menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan akan mendaki gunung tersebut sampai tuntas. 

Langkah-langkah Aevo terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Aevo terus berusaha, walau terjatuh beberapa kali. Naik, naik, dan terus naik. Sampai Aevo melihat sebuah hamparan tanah datar, dan Aevo kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi. Aevo mencoba membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Aevo sampai di puncak gunung. Gunung tersebut telah takluk. Aevo mengucap syukur, dan dengan pasrah menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Dedu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya. Eidelways sebagai hiasan dan batu gunung sebagai batu nisannya. 

Inilah gambaran kehidupan yang akan, atau sedang, atau mungkin yang seharusnya kita alami. Tetaplah berusaha, yakin pada tujuan hidup kita. Percaya bahwa dari setiap perjuangan akan ada hasil. Sehingga kita pun dapat menghargai hidup kita, dan semakin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita. Yang akan menghargai setiap usaha dalam hidup kita sesuai harga yang telah Dia tentukan. Sampai akhirnya kita pergi dari dunia dengan kepuasan hidup, dan yang terutama kelepasan yang sesungguhnya.

Ada Suatu Kejadian Dimasa Kanak-Kanak


Ada suatu kejadian dimasa kanak-kanak:

Pada suatu waktu anak-anak sedang duduk-duduk didatangi oleh seseorang yang tidak terlalu muda dan belum terlalu tua dan kita sebut saja bapak. Kemudian bapak tersebut memanggil anak-anak untuk datang sambil mengeluarkan setumpuk kartu remi. Setelah anak-anak berkumpul, bapak tersebut berkata bisakah melihat apa yang bapak lakukan, dan anak-anak berkata bisa pak.
Kemudian bapak tersebut mengocok kartu remi, mengambil dan membuka satu lembar kartu dan diletakkan disebelah kiri dan yang lainnya dipegang ditangannya.

Jika satu lembar kartu tersebut menunjukkan angka 3, maka ia menambahkan dengan kartu yang dipegangnya satu per satu sampai menjadi 10 (angka 3 yang muncul dari satu lembar kartu + 7 kartu yang diturunkan dari kartu yang masih dipegang) dan meletakkannya disebelah kanan.
Ini dilakukan seperti di atas berulang sampai 3 buah kartu. Sehingga ada 3 lembar kartu yang terbuka disebelah kiri, ada setumpuk kartu disebelah kanan dan masih ada tersisa setumpuk kartu ditangan bapak tersebut.

Kenudian bapak itu berkata, nah kalian (anak-anak), jika kalian melakukan ini ditempat tersembunyi yang bapak tidak melihatnya, maka bapak akan dapat mengetahui jumlah 3 lembar kartu yang terbuka tersebut. Tapi kalian harus membawa sisa kartu yang kalian pegang kepada bapak, sebab kartu ini akan bapak gosokkan dengan batu cincin yang bapak pakai dan batu cincin itu akan mengatakan kepada bapak jumlah dari 3 lembar kartu yang terbuka tersebut.

Pada saat itu anak-anak tertawa, karena tidak percaya. Tapi kemudian anak-anak tersebut menjadi bimbang antara percaya dan tidak percaya karena bapak tersebut selalu dapat menebak dengan benar. Makin lama anak-anak tersebut menjadi sebahagian percaya dan malah setiap kali bapak tersebut menggosokkan sisa kartu tadi dengan batu cincinnya dan kemudian mengatakan jumlah angkanya, anak-anak yang percaya menempelkan telinganya kepada batu cincin si bapak dan mengiyakan bahwa batu tersebut sudah mengatakan jumlah angkanya. Sebahagian anak-anak mengatakan, bapak tersebut orang sakti.

Dan ini sudah dilakukan beberapa hari oleh bapak tersebut, jika bapak tersebut mampir dan melihat anak-anak. Tapi ada seorang anak, sebut saja namanya hikmat, dia tetap mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh bapak tersebut, bahwa batu cincinnya bisa berbicara adalah tahayul. Karena jika telinganya didekatkan dengan batu cincin si bapak, dia tidak mendengar suara apapun.

Lalu bagaimana si hikmat tersebut dapat mengatakan bahwa itu adalah tahayul, sedangkan teman-temannya mengatakan itu bukan tahayul dan mempercayainya.

Pada suatu hari dia membeli kartu remi, kemudian dia masuk kedalam kamarnya dan sendiri dia berada dalam kamar tersebut. Kemudian dia mencoba permainan yang diajarkan oleh bapak tersebut.

Dia mengocok kartu, mengambil dan membuka satu lembar kartu pertama dan meletakkan disebelah kiri dan angka yang muncul adalah 2, kemudian dia menurunkan 8 lembar kartu dari kartu yang dipegangnya dan meletakkannya disebelah kanan.
Dia mengambil dan membuka satu lembar kartu kedua dan meletakkan disebelah kiri dan angka yang muncul adalah 5, kemudian dia menurunkan 5 lembar kartu dari kartu yang dipegangnya dan meletakkannya disebelah kanan.
Dia mengambil dan membuka kartu terakhir yaitu satu lembar kartu ketiga dan meletakkan disebelah kiri dan angkanya adalah 7, kemudian dia menurunkan 3 lembar kartu dari kartu yang masih dipegangnya dan meletakkannya disebelah kanan.
Kemudian sisa kartu yang biasanya diberikan kepada bapak itu untuk digosokkan dengan batu cincinnya sehingga batu cincin itu dapat berbicara, dia hitung jumlahnya adalah 37. Kemudian dia catat dalam kertas: jumlah angka 14, sisa kartu 37.

Dia kumpulkan kembali kartunya dan dikocok lagi, kemudian dihitung lagi, kemudian mencatat hasilnya dan ini dia lakukan sampai lima kali.

Kemudian dia membaca hasilnya.

1. Jumlah angka 14, sisa kartu 37
2. Jumlah angka 12, sisa kartu 35
3. Jumlah angka 6, sisa kartu 29
4. Jumlah angka 3, sisa kartu 26
5. Jumlah angka 10, sisa kartu 33

Kemudian dia mencoba mencari selisihnya.

1. selisih 23
2. selisih 23
3. selisih 23
4. selisih 23
5. selisih 23

Dia penasaran dan mencobanya lagi, dan hasilnya sama yaitu selalu selisih 23.

Akhirnya dia berkesimpulan, bapak tersebut dapat menebak dengan tepat bukan dari batu cincinnya yang bisa bicara, tapi dari sisa kartu yang dipegang bapak tersebut dan dikurangi 23 akan menghasilkan jumlah angka dari 3 lembar kartu tersebut.

Total seluruh kartu adalah 56. Keesokan harinya dia menceritakan apa yang telah dia lakukan kepada teman-temannya, dan teman-temannya menjadi berbalik dan mengatakan bahwa bapak itu tahayul.

Disini dapat kita lihat bahwa si hikmat telah menggunakan

1. Iman (tidak percaya, batu bisa bicara),
2. Indera (dia tidak mendengar sepatah katapun dari batu tersebut) dan
3. Akalnya (selisih angka 23, sehingga kartu tersebut selalu dapat ditebak)

untuk dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan seorang bapak tersebut adalah tahayul.
Ternyata permainan ini dapat dilakukan dengan selisih yang berbeda, jika total seluruh kartu minimal 27 lembar kartu.

Pergunakanlah selalu, Indera, Akal dan Iman kita untuk dapat mengungkapkan kejadian-kejadian yang sering terjadi akhir-akhir ini.


F. Kusumba
Email: fkusumba@telkom.net

sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=962&next=0

Air Terjun


Adalah air terjun di suatu daerah yang terpencil dan jauh yang dikenal berkhasiat menyembuhkan bagi yang sakit dan memuaskan dahaga bagi setiap pendatangnya.
Air terjun ini bebas bagi setiap pengunjung yang ingin mendatangi dan mengagumi panorama di sekitarnya.
Banyak orang yang iri pada penduduk yang tinggal di sekitar air terjun ini karena mereka bisa menikmati air berkhasiat itu serta damai,segar dan tenangnya alam.

Pada air terjun itu ada yang bersenang-senang dan berenang dibawah guyuran air, ada yang menampung air itu untuk dibawa ke rumah masing-masing.
Beberapa orang membeli dan membawa ember berwarna hijau untuk menampung air terjun yang berkhasiat itu, beberapa orang lagi membawa ember berwarna merah dan warna warna lainnya sesuai dengan kesukaan mereka.

Disaat mereka telah tiba di rumah masing masing maka mulailah mereka bercerita tentang indahnya alam di sekitar air terjun itu dan menunjukkan oleh-oleh air yang mereka dapatkan. Serta membagi-baginya pada sanak saudara dan handai taulan dengan botol yang berwarna sama seperti embernya. Mereka yang menerima oleh-oleh itu begitu bangga sehingga menyimpannya sebagai hiasan dan bukti bahwa mereka mempunyai air dari air terjun yang sangat terkenal itu.

Si pembawa oleh-oleh air itu akhirnya meninggal dan oleh-oleh yang dia bagikan tetap tersimpan berikut cerita tentang keindahannya dan menjadi kenang-kenangan turun temurun. Pada akhirnya mereka yang menyimpan air itu menyatakan bahwa mereka mengerti sepenuhnya tentang air terjun tersebut dan mulai bercerita begitu lancarnya. Semua orang yang diceritakan tentang alam air terjun itu berikut kenang-kenangan air yang ada terus mengaguminya dan mulailah air itu menjadi begitu tak ternilai sehingga banyak orang yang menyatakan bahwa air yang diambil dari ember merahlah yang asli dan sebaliknya bagi mereka yang mendapat air dari ember dari warna yang berbeda pun menyatakan hal yang sama.

Pada suatu saat bertemulah salah satu penyimpan oleh-oleh air dari botol berwarna merah dengan botol berwarna biru, merekapun mulai memperdebatkan keaslian air yang mereka punya. Tanya jawab sengitpun bergulir baik pertanyaan tentang posisi air terjun, susunan batu disekitar air terjun dan habitat tanaman ataupun hewan apa saja yang ada disana untuk membuktikan air siapakah yang asli. Perdebatan tak pernah berakhir karena semuanya merasa bahwa hanya air merekalah yang asli dari air terjun itu.

Di lain tempat di sekitar air terjun yang menjadi perbincangan masih ditemukan penjual yang menjajakan ember berbagai warna bagi para pengunjung yang ingin membawa air sebagai oleh-oleh dan tak jauh adapula beberapa orang yang membawa ember yang berwarna apa saja saat menjumpai para pencari air terjun yang cedera juga kehausan dan belum sampai di tujuan dengan senangnya mereka membagi air tersebut supaya para pejalan itu mendapatkan kekuatan untuk sampai di air terjun itu.

Kasih karunia Tuhan itu bagaikan air terjun yang takkan pernah habis dan bebas bagi siapa saja. Rasanya hanya membuang waktu jika kita memperdebatkannya. Adalah lebih berguna jika air itu dapat kita bagi bagi siapa saja yang membutuhkan ataupun yang kehausan tanpa harus melihat botol warna apa yang kita punya
Sungguh melelahkan jika harus mencari orang yang membutuhkan tetapi harus dengan botol yang berwarna sama dengan ember yang kita punya, seperti air terjun yang tak memilih ember yang ingin menampung airnya, terus mengalir dengan derasnya. 


Dewi Hoediati
Email: dewi_hoedi@yahoo.com

sumber : http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Cerita&table=isi&id=1618&next=0

Allah Bapa Seperti Pemulung

"Ada satu hal di mana TUHAN tidak berkuasa untuk melakukannya" TUHAN tidak berkuasa untuk tidak menepati janjiNYA. Ia begitu setia akan janjiNYA.(Mazmur 12:7) 

Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb. 

Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar seorang anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!" "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. 

Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. 

Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" 

Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya." 

Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah. 

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." 

Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu sendiri melainkan pemberian Allah. 

Our God is able! "Not by power, not by might, but by My Spirits, says the LORD" (Zach 4:6)